LINTASRAYA.COM BALIKPAPAN – Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan kembali menorehkan prestasi membanggakan lewat kiprahnya membina destinasi wisata lokal. Salah satu hasil nyata pembinaan itu adalah Wisata Pringgondani di Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, yang kini menembus 15 besar nasional dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2025.
Kawasan yang dahulu hanya berupa lahan hijau biasa kini menjelma menjadi ikon wisata berbasis lingkungan dan budaya, hasil kerja kolektif masyarakat bersama Disporapar Balikpapan.
“Awalnya Pringgondani ini hanya rintisan, namun berkat semangat masyarakat dan pembinaan yang terus kami lakukan, kini sudah naik kelas menjadi desa wisata kategori maju. Harapannya ke depan bisa mandiri dan menjadi contoh bagi kawasan lain di Balikpapan,” ujar Ratih Kusuma, Kepala Disporapar Balikpapan, Sabtu (11/10/2025).
Ratih menuturkan, kesuksesan Pringgondani bukan semata karena keindahan alamnya, tetapi karena adanya sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku UMKM lokal. Ia menegaskan, Disporapar tidak hanya berfokus pada promosi, tapi juga penguatan kelembagaan, kebersihan lingkungan, hingga keberlanjutan ekonomi masyarakat.
“Kami memastikan seluruh aspek berjalan baik. Mulai dari atraksi wisata, pengelolaan limbah, hingga pemberdayaan UMKM. Prinsip kami, wisata yang maju harus tetap ramah lingkungan dan memberi manfaat bagi warga sekitar,” jelas Ratih.
Dalam penilaian ADWI 2025, Pringgondani dinilai unggul pada lima aspek utama: daya tarik wisata, digitalisasi, kelembagaan, fasilitas umum, dan keberlanjutan lingkungan. Semua unsur itu terpenuhi dengan baik berkat dukungan kolaboratif antara Disporapar dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat.
Kini, kawasan Pringgondani telah menjadi magnet baru bagi wisatawan lokal setiap akhir pekan. Disporapar pun menggandeng berbagai pihak, seperti PKK Kota Balikpapan dan pelaku hotel dan restoran, untuk ikut berpartisipasi dalam promosi serta pengembangan ekonomi kreatif di area wisata tersebut.
“Setiap Sabtu-Minggu pengunjung selalu ramai. Kami manfaatkan momen ini agar pelaku UMKM dan hotel bisa melakukan promosi langsung. Selain itu, kami juga tengah mendorong konektivitas transportasi agar akses menuju lokasi semakin mudah,” tambah Ratih.
Salah satu daya tarik utama kawasan ini adalah Pasar Pringgodani, yang menawarkan pengalaman belanja tradisional unik. Pengunjung dapat menukar uang tunai dengan “uang kayu” senilai Rp5.000, Rp10.000, dan Rp20.000 untuk bertransaksi di pasar, menambah kesan otentik dan edukatif bagi wisatawan.
Selain menjadi ruang ekonomi kreatif, pasar ini juga menjadi panggung bagi seni dan budaya lokal. Wisatawan dapat menikmati pertunjukan tradisional, mencicipi kuliner khas, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat yang ramah.
Tak hanya itu, pasar ini berada di area hijau yang asri—dikelilingi hutan dan area penelitian agronomi serta hortikultura, menjadikannya destinasi wisata edukatif dan ekologis.
Ke depan, Disporapar Balikpapan terus berkomitmen mengembangkan potensi serupa di kawasan lain. “Pringgondani menjadi contoh bahwa pariwisata bisa tumbuh lewat gotong royong. Kami ingin keberhasilan ini jadi inspirasi bagi daerah lain di Balikpapan,” tutup Ratih.
Rencananya, tim Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan melakukan kunjungan lapangan ke Pringgondani pada November 2025 untuk penilaian tahap akhir ADWI. Bagi Balikpapan, momen ini bukan sekadar lomba, tetapi pengakuan atas kerja nyata masyarakat dan pemerintah dalam memajukan wisata daerah.
(/ADV/Disporapar Balikpapan)















