LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN – Upaya menjaga stabilitas harga pangan sekaligus memastikan keberlanjutan pasokan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser mendorong fasilitasi kerja sama pasokan antara produsen/distributor pangan lokal dengan mitra supplier SPPG-MBG melalui skema business matching.
Langkah ini dinilai strategis seiring proyeksi bertambahnya jumlah SPPG yang akan beroperasi pada 2026 di tiga wilayah kerja KPwBI Balikpapan. Ketersediaan pasokan bahan pangan yang terjaga menjadi kunci agar operasional MBG berjalan berkelanjutan tanpa memicu gejolak harga.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menegaskan bahwa penguatan rantai pasok lokal menjadi salah satu strategi penting pengendalian inflasi pangan.
“Fasilitasi business matching ini tidak hanya bertujuan memastikan kesinambungan pasokan bagi SPPG-MBG, tetapi juga mendorong pemanfaatan produk pangan lokal sebagai prioritas. Dengan demikian, perputaran ekonomi terjadi di daerah dan memberikan multiplier effect yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujar Robi.
Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah daerah, produsen, distributor, dan mitra SPPG diharapkan mampu menciptakan ekosistem pasokan yang stabil dan saling menguntungkan.
Rangkaian Business Matching
Kegiatan business matching telah dilaksanakan pada 4–5 dan 9 Februari 2026 di Balikpapan, 9 Februari di Paser, serta 10 Februari di Penajam Paser Utara.
Dalam forum tersebut, dipaparkan kondisi ketersediaan pasokan pangan dari petani, peternak, pembudidaya ikan, hingga distributor yang mendatangkan bahan pangan dari luar wilayah.
Mitra SPPG-MBG juga menyampaikan kebutuhan komoditas secara periodik, meliputi sayuran, buah-buahan, telur ayam ras, daging ayam ras, daging sapi, hingga produk olahan seperti tahu dan tempe, sesuai menu yang telah ditetapkan.
Selain itu, dipaparkan pula perkembangan operasional SPPG, estimasi kebutuhan komoditas bulanan, serta struktur biaya MBG per penerima manfaat.
Delapan Kesepakatan Awal di Balikpapan
Khusus di Balikpapan, TPID telah menyusun booklet profil produsen dan distributor pangan sebagai panduan bagi mitra SPPG dalam melakukan pendalaman kerja sama. Dari proses penjajakan yang dipimpin Kepala Bappedalitbang Balikpapan, teridentifikasi delapan kesepakatan awal antara produsen/distributor dengan mitra SPPG.
Kesepakatan tersebut dijadwalkan akan difinalisasi dan ditandatangani dalam High Level Meeting (HLM) TPID gabungan Balikpapan, PPU, dan Paser pada 18 Februari 2026.
Sementara itu:
Kabupaten Paser memprioritaskan kerja sama pasokan telur ayam ras pada tahap awal.
Kabupaten PPU memfokuskan penjajakan awal pada pasokan tahu dan tempe dari produsen lokal.
Ke depan, fasilitasi business matching skala lebih besar juga akan terus didorong, terutama seiring ekspansi operasional SPPG di masing-masing wilayah.
Melalui langkah ini, TPID bersama Bank Indonesia optimistis stabilitas harga pangan tetap terjaga, sekaligus memastikan program MBG berjalan lancar dan memberi dampak ekonomi nyata bagi daerah.(*/Wan)















