LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN – Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan menyampaikan aspirasi penting saat bertemu dengan anggota DPRD Balikpapan terkait perhatian lebih terhadap kader posyandu.
Mereka berharap adanya alokasi insentif bagi para kader yang selama ini berperan aktif sebagai relawan, mirip dengan insentif yang diberikan kepada RT untuk dana operasional.
Kepala DKK Balikpapan, Alwiati, menegaskan bahwa para kader posyandu memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan masyarakat, terutama di tingkat akar rumput. “Kader posyandu adalah garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka memiliki peran penting, terutama dalam upaya menekan angka stunting yang saat ini menjadi fokus utama kami,” jelasnya.
Alwiati menjelaskan, selama ini kader posyandu bekerja secara swadaya sebagai relawan. Dana yang mereka terima hanya terbatas pada transportasi yang jumlahnya sekitar Rp 50 ribu. “Kita ingin ada bentuk perhatian lebih, termasuk pemberian insentif, karena kontribusi mereka sangat besar,” tambahnya.
DKK Balikpapan pun berharap DPRD bisa mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung kesejahteraan para kader posyandu. “Kami sudah menyampaikan hal ini ke anggota dewan. Harapannya, ada alokasi anggaran untuk mendukung insentif bagi para kader,” kata Alwiati.
Saat ini, operasional posyandu sebagian besar bergantung pada dana bantuan dari RT, yang biasanya hanya dialokasikan untuk kebutuhan operasional, bukan untuk insentif kader. Dengan adanya insentif, DKK berharap kesejahteraan kader dapat meningkat, sehingga mereka dapat bekerja lebih optimal.
“Misalnya, untuk meningkatkan kapasitas dan keaktifan mereka dalam memantau kesehatan masyarakat, tapi saat ini tidak ada honor khusus untuk itu,” jelasnya. Berdasarkan estimasi DKK, anggaran yang dibutuhkan untuk memberikan insentif kepada para kader posyandu di seluruh kota mencapai Rp 10 miliar.
Alwiati menambahkan, Balikpapan memiliki 1.788 RT, dan setiap RT rata-rata memiliki lima kader posyandu. Dengan insentif yang tepat, ia yakin para kader dapat lebih intensif dalam menjalankan tugas mereka. Salah satu contohnya adalah mendatangi rumah keluarga yang tidak membawa anaknya ke posyandu untuk penimbangan.
“Dengan perhatian lebih, kader bisa lebih aktif mengawal kesehatan setiap keluarga di lingkungan mereka. Selama ini, kunjungan ke posyandu masih tergolong rendah, dan peran aktif kader sangat diperlukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama bagi keluarga dengan balita,” ujarnya.
DKK berharap upaya ini dapat mendorong peningkatan pelayanan posyandu dan penurunan angka stunting di Balikpapan. “Jika kesejahteraan kader terjamin, mereka pasti lebih bersemangat dan fokus dalam menjalankan tugas mereka,” pungkas Alwiati. (*/adv/diskominfo Balikpapan)















