LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN – Puskesmas Manggar kembali melaksanakan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di SD Bersinar, RT 66, Kelurahan Manggar, Batakan, Kamis 13 November 2025.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga kesehatan anak sejak usia dini sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi.
Imunisasi diberikan kepada siswa kelas 1, 2, dan 5 SD. Anak kelas 1 menerima vaksin DT (Difteri Tetanus), sedangkan siswa kelas 2 dan 5 mendapatkan vaksin Td (Tetanus Difteri).
“Ini kegiatan yang rutin kami lakukan. Imunisasi ini juga bagian dari membentuk generasi sehat,” ujar Harni Suprikatin, Pj Imunisasi Puskesmas Manggar.
Ada beberapa anak tidak hadir karena sakit, pihak sekolah dan puskesmas menyiapkan jadwal imunisasi susulan agar semua murid tetap terlindungi.
Antusiasme guru, orang tua, dan pihak sekolah menjadi kunci keberhasilan program ini.
Harni menambahkan, koordinasi terus dilakukan agar setiap anak mendapatkan layanan imunisasi.
“Orang tua kini semakin memahami bahwa imunisasi adalah bentuk perlindungan nyata bagi anak-anak mereka,” jelasnya.
Dalam praktiknya, sekitar tiga hingga empat anak per kelas biasanya takut atau enggan divaksin.
Namun, tim puskesmas aktif memberikan edukasi kepada sekolah dan orang tua mengenai pentingnya imunisasi sebagai perlindungan berkelanjutan dari penyakit, terutama difteri dan tetanus.
“Setelah dijelaskan, banyak anak akhirnya mau mengikuti imunisasi susulan,” tutur Harni.
Vaksinasi yang diberikan di sekolah merupakan kelanjutan dari imunisasi dasar yang diterima sejak bayi.
Harni menekankan bahwa kekebalan yang diperoleh bisa bertahan hingga dewasa, bahkan untuk anak perempuan, perlindungan ini akan mencegah kebutuhan vaksin tetanus saat hamil di masa depan.
“Manfaatnya bisa bertahan hingga 25 tahun ke depan,” tambahnya.
Puskesmas Manggar mengimbau orang tua untuk tidak menunda imunisasi anak karena merupakan investasi kesehatan jangka panjang.
Anak yang terlindungi sejak dini berpeluang menjadi generasi kuat dan produktif. Edukasi juga terus dilakukan melalui posyandu, sekolah, dan media sosial puskesmas.
“Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Imunisasi bukan hanya soal jarum suntik, tapi masa depan anak-anak kita,” pungkas Harni. (*/ADV/jan)















