LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Kota Balikpapan mencatat inflasi rendah sebesar 0,03% (mtm) pada Oktober 2025, sementara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami deflasi 0,48% (mtm). Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Balikpapan tercatat 1,81% (yoy) — lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 2,86% (yoy), dan masih berada dalam sasaran inflasi nasional (2,5% ±1%).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, menyampaikan bahwa capaian tersebut menunjukkan stabilitas harga yang tetap terjaga berkat sinergi kuat antara BI, pemerintah daerah, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Kondisi inflasi yang terkendali ini mencerminkan hasil kerja bersama menjaga pasokan dan harga pangan di daerah. Ke depan, kami terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi tekanan harga menjelang akhir tahun,” ujar Robi.
Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menjadi kontributor utama inflasi dengan andil 0,26% (mtm).
Komoditas penyumbang inflasi tertinggi antara lain emas perhiasan, air kemasan, semangka, kangkung, dan jeruk.
Kenaikan harga emas perhiasan dipengaruhi tren harga emas dunia dan meningkatnya permintaan masyarakat. Adapun kenaikan harga air kemasan disebabkan penyesuaian harga oleh distributor akibat meningkatnya biaya operasional distribusi.
Sementara itu, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil deflasi sebesar 0,16% (mtm).
Komoditas yang menurun antara lain bawang merah, ikan layang, angkutan udara, kacang panjang, dan baju muslim anak. Penurunan harga bawang merah dan cabai didorong oleh musim panen di sentra produksi Jawa dan Sulawesi, sementara tarif angkutan udara turun seiring berakhirnya musim liburan.
Kabupaten PPU mengalami deflasi 0,48% (mtm), dengan kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebagai penyumbang utama. Komoditas penyebab deflasi meliputi ikan tongkol, ikan layang, tomat, cabai rawit, dan bawang merah — seluruhnya turun harga karena melimpahnya pasokan hasil panen.
Adapun lima komoditas yang mendorong inflasi di PPU adalah nasi dengan lauk, emas perhiasan, daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret kretek tangan (SKT).
Di sisi lain, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi Balikpapan terus meningkat. Hasil Survei Konsumen BI Oktober 2025 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik ke level 119,3, dari 118,3 pada September.
Pertumbuhan transaksi QRIS di Balikpapan juga meningkat tajam sebesar 150,31% (yoy), dan bahkan mencapai 160,34% (yoy) di PPU, menandakan daya beli masyarakat masih solid.
Untuk menjaga stabilitas harga menjelang akhir tahun dan menghadapi puncak musim hujan, TPID Balikpapan dan PPU memperkuat sejumlah strategi pengendalian inflasi, di antaranya:
1. Pemantauan harga bahan pokok secara rutin dan operasi pasar.
2. Gelar pangan murah di tingkat kelurahan.
3. Perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk menjaga pasokan.
4. Gerakan pemanfaatan lahan pekarangan untuk hortikultura.
“Kami terus memperkuat sinergi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) agar inflasi daerah tetap berada dalam sasaran nasional,” tutur Robi.
Dengan kondisi inflasi yang terkendali, BI optimistis stabilitas ekonomi Balikpapan dan PPU akan tetap terjaga, mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan hingga akhir tahun.(*/Wan)















