PENAJAM, lintasraya.com – Sekretaris Komisi II DPRD PPU Sujiati angkat bicara menyebut masih produk ayam potong dan ayam petelur di kawasan PPU memang mengalami banyak kendala.
Mengingat, saat ini kenaikan harga telur ras yang tak kunjung turun. Ada beberapa kendala yang dihadapi pertama, kendalanya jika tidak bekerjasama dengan perusahaan, tidak akan mungkin dapat berjalan normal dikarenakan harga pakan ayamnya (jagung) yang mahal.
“Sebenarnya yang menyebabkan kenaikan ayam petelur lokal dan ayam potong karena pakannya yang mahal. Ada beberapa kerabat yang mencoba berusaha untuk ayam petelur, ternyata tipis sekali terkait keuntungannya,” kata Sujiati, Rabu (1/6/2023).

Menurutnya, lebih tinggi kos produksi. Mulai dari kos biaya perawatan, pemeliharaan, pakan, hingga kos biaya untuk karyawan itu sendiri. Untuk ketegori ayam potong, lanjutnya, memang masih harus ketergantungan dengan perusahaan. Saat perusahan terkendala dengan harga pakan dan lain – lain, otomatis mempengaruhi hal harga jual ke masyarakat tersebut.
“Intinya, harga jual telur lokal tetap berpatokan dengan harga telur dari Jawa Timur (Surabaya),” ujarnya.
Sementara itu, untuk di daerah PPU sendiri, terkait pakan ayah petelur memang belum tersubsidi. Sujiati berencana akan mengkomunikasikan dengan para anggota Komisi II DPRD PPU bersama dinas terkait yang menangani peternakan untuk mencarikan solusinya. Untuk para peternak – peternak ayam potong dan ayam petelur.
“Siapa tau dari situ bisa mendapatkan subsidi. Perlu juga pihak pemerintah melakukan peninjauan untuk turun ke pasar atau ke lapangan. Tetapi kalau bisa jangan hanya sekedar meninjau. Paling utama adalah mencari solusi,” jelasya.

Karena ketika harga mengalami kenaikan, tentu menjadi dilema semua pihak. Dalam artian, dengan kondisi mahal tersebut para peternaknya yang diuntungkan. Sedangkan masyarakat konsumsi atau pembelinya teriak atau mengeluh.
“Jadi mencari bagaimana solusi terbaiknya untuk mengatur di tengah – tengahnya. Masyarakat tidak teriak dengan kenaikan harga sembako, dan harga di peternakannya juga tidak terlalu jatuh,” imbuhnya.
Dirinya juga menyadari saat ini harga telur memang tergolong mahal. Apalagi harga ayam dipasaran yang sudah diangka Rp. 53.000 perkilogramnya. Sedangkan untuk harga normal, biasanya paling mahal diharga Rp. 35.000 sampai Rp. 37.000 per kilogramnya.
“Saya sempat pergi kepasar menyaksikan sendiri kenaikan harga telur dan harga daging ayam di pasar,” timpalnya.
Untuk factor lain, bisa jadi kenaikan diakibatkan juga menjelang hari raya Idul Adha 1444 H beberapa minggu lagi. Diberengi karena pasokan pakan yang mahal. Terkait pakan, untuk di wilayah PPU sendiri, memang pasokan pakan mendatangkan dari luar daerah.
“Makanya solusinya, sebenarnya saya berharap dari dinas atau pemerintah mencoba bagaimana membuat produk pakan itu di daerah sendiri. Bahan baku utamanya adalah jagung. Tinggal bagaimana caranya menggerakkan para petani lokal kita untuk menanam jagung kering,” ujarnya.
Adapun kendalanya terkait hal itu, para petani lokal mengeluhkan penanaman jagung kering yang terkendala dengan pasca panenannya.
“Kalau kita tanam banyak, pasca panenannya pasti anjlok. Otomatis petaninya akan mengalami kerugian akibat tingginya biaya yang tidak sesuai. Tetapi jika kita memiliki pabrik pakan sendiri, saya pikir harga jagung akan stabil. Petani juga akan konsisten menanami itu. Seperti itu solusinya,” pungkasnya.(*/ADV/wan)















