LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Program Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) yang rutin digencarkan Puskesmas Gunung Bahagia kembali menunjukkan dampak positif
terhadap kesehatan anak usia dini di wilayah tersebut.
Melalui kegiatan skrining yang dilakukan secara terjadwal, berbagai potensi masalah tumbuh kembang berhasil diidentifikasi lebih cepat, termasuk risiko stunting.
PJ Kesjaor Puskesmas Gunung Bahagia, Fahmi Hafid Erwanto, menjelaskan bahwa SDIDTK tidak hanya berfokus pada tumbuh kembang, tetapi juga masalah kesehatan lain yang berkaitan dengan perkembangan anak.
“Salah satunya memang bisa mendeteksi stunting. Jadi selain tumbuh kembang, kami juga melakukan skrining-skrining lainnya,” ujar Fahmi, kamis (27/11/2027).
Menurutnya, sepanjang tahun ini temuan kasus dari SDIDTK berada di angka 1–2 persen dari total anak yang diperiksa. Persentase tersebut terbilang kecil karena sebagian besar sekolah telah memahami proses skrining, rujukan, dan intervensi lanjutan bila diperlukan.
Fahmi menambahkan bahwa anak-anak yang membutuhkan penanganan khusus sebagian besar telah diarahkan ke sekolah yang memiliki layanan sesuai kebutuhan mereka atau telah mendapatkan terapi.
“Tidak semua sekolah ada kasus. Paling satu sekolah hanya 1–2 anak. Yang agak banyak itu di daerah Sungai Nangka, satu sekolah bisa tiga anak. Tapi rata-rata sudah diintervensi dan mendapat terapi,” jelasnya.
Jika dalam skrining ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian lebih, anak akan dirujuk ke fasilitas khusus sebelum ke rumah sakit. Pemerintah Kota Balikpapan telah menyediakan Puskesmas Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang menjadi rujukan utama.
“Balikpapan punya puskesmas khusus ABK. Lokasinya di sekitar Jalan Sepakat–Mufakat. Itu punya pemerintah dan jadi rujukan utama sebelum ke rumah sakit,” kata Fahmi.
Fahmi mengungkapkan bahwa dibanding tahun sebelumnya, jumlah kasus tumbuh kembang yang ditemukan melalui SDIDTK justru menurun. Penurunan ini menjadi indikator bahwa kesadaran orang tua terhadap pemantauan tumbuh kembang semakin membaik.
“Karena sekarang orang tua lebih aware. Bahkan sebelum sekolah, banyak anak yang sudah ikut terapi. Jadi saat kami screening, mereka sudah bisa mengikuti standar,” ungkapnya.
Untuk menjamin pemantauan yang konsisten, SDIDTK dilaksanakan minimal dua kali setahun atau setiap enam bulan sekali di seluruh sekolah yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Gunung Bahagia.
“Minimal enam bulan sekali. Dalam satu tahun kami lakukan dua kali di sekolah-sekolah,” terang Fahmi.
Selain melakukan skrining, puskesmas juga rutin memberikan edukasi dan penyuluhan kepada pihak sekolah agar proses deteksi dini bisa berjalan berkelanjutan dan lebih menyeluruh.
Dengan pelaksanaan SDIDTK yang semakin intensif dan terarah, Puskesmas Gunung Bahagia berharap seluruh anak di wilayahnya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Deteksi dini menjadi kunci agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat sebelum masalah berkembang lebih serius.
Program ini sekaligus menjadi komitmen puskesmas untuk memastikan layanan kesehatan anak tetap menjadi prioritas, sejalan dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan keluarga di Balikpapan.(*/ADV/puskesmas Gunung Bahagia)















