BALIKPAPAN, lintasraya.com – Limbah Sampah jika tidak dikelola dengan tepat akan menjadi dampak negatif di masyarakat. Mulai dari baunya yang tak sedap hingga jumlahnya yang setiap hari bertambah perlu adanya langkah tepat untuk memanfaatkan sampah.
Diketahui, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) melalui program Waste to Energy for Community (Wasteco), mampu memproduksi energi yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitar daerah operasi perusahaan. Program yang memanfaatkan gas metana merupakan hasil olahan sampah.
Hasilnya bisa menggantikan LPG untuk kebutuhan memasak, juga membuka peluang untuk pengembangan kegiatan usaha masyarakat. Tak hanya itu, manfaat lain gas metana dari olahan sampah ini juga dimanfaatkan untuk listrik penerangan.

Hal itu diungkapkan Head of Communication Relations & CID PHM Diterangkan Frans Alexander Hukom dalam Kunjungan ke Wasteco PHM di UPTD Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPAS) Manggar, Jumat (22/7/2022).
Frans menjelaskan, Wasteco adalah program pemberdayaan masyarakat yang mengelola sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Yang merupakan sinergitas perusahaan Migas dengan pemerintah dalam hal ini UPTD TPAS Manggar. Dengan tujuan sebagai pemberdayaan masyarakat.
“Kami memanfaatkan sampah jadi gas metana sehingga gas tersebut bisa dinikmati masyarakat sekitar sebagai pengganti LPG,” ujarnya.
Untuk menyalurkan gas metana ke masyarakat, PHM membangun pipa distribusi sepanjang 6.640 meter. Lewat pipa tersebut, dialirkan gas metana sekitar 462.680 m3 per tahun yang dapat digunakan oleh 200 keluarga. Frans mengatakan, rencananya tahun ini PHM akan memperluas pemanfaatan gas metana dengan membangun 100 jalur distribusi lagi. Dengan manfaat tersebut, program Wasteco ini menjadi salah satu inovasi sosial Pertamina, khususnya PHM di daerah Balikpapan, Kaltim.
“Sampah identik dengan kotor, jorok dan bau, tapi kini dikembangkan menjadi sumber energi bernilai ekonomi tinggi yang dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat sekitar,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, kata dia, dengan sumber energi baru ini, PHM bersama pemerintah daerah serta masyarakat setempat tengah mengembangkan pemanfaatannya untuk kegiatan usaha.
“Banyak jenis usaha UMKM yang bisa dikembangkan. Pedagang kecil dan asongan bisa tumbuh karena mereka memperoleh energi yang baik dan murah,” tambahnya.

Kesempatan yang sama, Kepala UPTD TPAS Manggar, Haryanto menjelaskan, Masyarakat, di sekitar TPAS Manggar rata-rata menggunakan gas LPG kemasan 3 kg sebanyak 3 tabung per keluarga per bulan. Sementara, untuk kegiatan usaha, bisa menghabiskan 10 hingga 20 tabung LPG 3 kg per bulan. Dengan gas dari sampah ini, masyarakat hanya perlu mengeluarkan biaya Rp 10.000 saja per bulan.
Dia menjelaskan, sampah dari Kota Balikpapan yang terkumpul di TPAS Manggar mencapai sekitar 132.000 ton per tahun atau 350-400 ton per hari. Dari tumpukan sampah tersebut, kata dia, berpotensi dihasilkan gas metana sebesar 2,2 juta meter kubik per tahun.
“Kondisi dan potensi inilah yang dimanfaatkan PHM dengan menggandeng pihak UPTD TPAS Manggar untuk memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari sampah tersebut,” tuturnya.
Haryanto menjelaskan, Gas metana ini didapat melalui endapan dari air lindi (air sampah) maupun tumpukan sampah di landfil(tempat penumpukan).
Nilai ekonomis yang dirasakan seluruh masyarakat setelah menggunakan gas metana ini pun sangat terasa. Masyarakat mengalami Penghematan biaya gas LPG untuk memasak dengan total sekitar Rp 144 juta pertahun. Hal tersebut dirasakan ratusan warga, 10 pelaku UMKM, 10 warung dan Cafe serta 2 pabrik tahu dan gula di wilayah UPTD TPAS Manggar.
“Disini juga kami siapkan beberapa lokasi edukasi. Mulai dari Cafe metana, tempat sauna dan Pertalisa (Pemurnian gas metana hasil dari sampah) yang dikelola kelompok masyarakat binaan UPTD TPAS Manggar.
Sisi lainnya, Tim teknisi Pertalisa, Ari mengatakan, selain gas metana, manfaat pengolahan sampah ini, juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik untuk penerangan jalam umum, rumah tangga dan lainnya.
“Nilai penghematan dari lampu penerangan jalan ini mencapai Rp15 juta per bulan,” ucapnya.
Ari menerangkan, bahwa Gas metana yang dihasilkan dari olahan sampah, harus melalui separator untuk menghasilkan listrik. Saat ini di UPTD TPAS Manggar mampu menghasilkan 22.000 watt. Yang dihasilkan dari 3 landfil(lokasi zona tumpukan sampah)
“Untuk penerangan di lingkungan TPAS Manggar ini membutuhkan 9.000 watt. Artinya masih ada free 13.000 watt listrik,” tandasnya.(*/wan)















