LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Upaya percepatan penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayah Balikpapan Selatan terus diperkuat Puskesmas Gunung Bahagia melalui inovasi terbaru, Gerakan Mobile Deteksi Dini penyakit TBC atau yang disingkat “Germo Dedi Nyate” Program ini dirancang untuk mencari kasus TBC secara aktif langsung di masyarakat.
“Ini inovasi kami untuk mencari kasus TBC secara aktif, bukan hanya menunggu pasien datang ke puskesmas. Kami turun ke sekolah, RT, hingga mengikuti kegiatan penjaringan kesehatan,” jelas Puji Rahayu, A.Md.Kep, Penanggung Jawab Program TBC Puskesmas Gunung Bahagia, Rabu (26/11/2025).
Skrining TBC dilakukan bersamaan dengan berbagai kegiatan, seperti pemeriksaan kesehatan siswa di sekolah serta kunjungan lapangan petugas. Meski demikian, Puji mengakui bahwa hasil temuan di lapangan masih terbatas akibat banyak warga yang tidak berada di rumah saat penelusuran.
Pada 8 Desember 2025, Puskesmas Gunung Bahagia juga akan berpartisipasi dalam kegiatan skrining TBC dan HIV di salah satu kampus swasta bersama Dinas Kesehatan Kota Balikpapan.
Selain penemuan kasus, puskesmas turut menekankan pentingnya upaya pencegahan melalui Terapi Pencegahan TBC (TPT), khususnya bagi keluarga serumah pasien TBC aktif.
“Syaratnya, yang menerima TPT harus dipastikan tidak sakit TBC. TPT diberikan untuk memutus risiko penularan terutama bagi keluarga serumah,” ujar Puji.
Namun capaian TPT masih menjadi pekerjaan rumah. Dari target 74 orang, baru 29 orang (39%) yang menerima TPT hingga September 2025.
Dalam aspek pengobatan, angka keberhasilan terapi atau Treatment Success Rate (TSR) untuk pasien yang memulai pengobatan pada 2024 mencapai 83%. Sementara untuk tahun berjalan, dari 18 pasien yang telah menyelesaikan pengobatan, TSR sementara baru berada di angka 37%.
Pada temuan kasus TBC anak, capaian juga masih rendah. Dari target 34 kasus per tahun, baru 6 kasus (17%) yang ditemukan hingga November 2025. Puji mengingatkan masyarakat bahwa TBC merupakan penyakit yang sangat mudah menular melalui droplet.
“Sekali batuk, bisa keluar sekitar 3.000 percikan droplet yang mengandung kuman TBC. Jika kita menghirupnya, kita bisa tertular. Karena itu penting menjaga ventilasi rumah, menggunakan masker, dan segera periksa jika mengalami batuk lebih dari dua minggu,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa Puskesmas Gunung Bahagia akan terus memperkuat upaya deteksi dini, skrining lapangan, serta edukasi kesehatan demi menekan penularan TBC di wilayahnya.(*/ADV/puskesmas Gunung Bahagia)















