LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) di Puskesmas Gunung Bahagia (Gubah) terus mengalami peningkatan seiring diterapkannya transformasi digital di seluruh lini pelayanan.
Hal tersebut disampaikan oleh Sherly Marliena, S.Tr.Keb., Bidan Koordinator KIA Puskesmas Gubah, yang menegaskan bahwa seluruh sistem kini telah saling terhubung dan semakin memudahkan masyarakat.
Sherly menjelaskan bahwa era transformasi kesehatan saat ini membuat layanan antarinstansi semakin terintegrasi.
“Sekarang ini adalah era transformasi. Semua lini di bidang kesehatan sudah saling connecting. Mulai dari Puskesmas, rumah sakit, DP3AKB, kelurahan, sampai lembaga masyarakat,” katanya, saat ditemui di ruangannya, Rabu (26/11/2025).
Menurut Sherly, salah satu perubahan terbesar yang dirasakan adalah integrasi data kesehatan melalui sistem digital.
“Semuanya sudah terkoneksi, apalagi dengan adanya digitalisasi. Data dari KIA, gizi, dan pelayanan lainnya langsung masuk ke e-Pus dan terhubung secara otomatis,” ungkapnya.
Dengan sistem tersebut, proses pelayanan menjadi lebih cepat dan efisien. Mulai dari pendaftaran, pemeriksaan, hingga rujukan ke poli gigi, poli umum, atau dokter spesialis dapat dilakukan secara terstruktur melalui alur digital yang terhubung.
Transformasi digital juga menghadirkan paket pelayanan yang lebih lengkap bagi ibu hamil. Pemeriksaan kehamilan, laboratorium, USG, edukasi, hingga kelas hamil kini berada dalam satu alur pelayanan terpadu.
“Sekarang ibu hamil datang itu sudah mendapatkan layanan terintegrasi. Ada buku KIA digital, pemeriksaan darah, konsultasi dokter, sampai kelas hamil,” jelas Sherly.
Puskesmas juga membangun cluster pelayanan yang menghubungkan ibu hamil dengan kebutuhan spesifiknya, seperti imunisasi, pemeriksaan USG, hingga deteksi dini penyakit yang menjadi fokus eliminasi.
Meski layanan semakin baik, Sherly menyoroti adanya tantangan baru pada generasi ibu hamil saat ini yang berkaitan dengan pola hidup modern.
“Sekarang ibu-ibu itu pintar karena mudah dapat informasi. Tapi kelalaiannya ada pada pola hidup,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah persoalan gaya hidup yang sering ditemui:
Konsumsi makanan olahan dan tinggi gula, Kurang konsumsi sayur, Minim aktivitas fisik
Ketergantungan pada gawai dan Pola asuh keluarga yang kurang memperhatikan gizi.
Dampaknya, kasus anemia, obesitas, dan tekanan darah tinggi pada ibu hamil semakin meningkat.
“Banyak remaja putri calon pengantin yang anemia. Masuk ke hamil masih anemia, akhirnya bayi lahir BBLR atau prematur,” tambah Sherly.(*/ADV/puskesmas Gunung Bahagia)















