LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Penanganan diabetes tidak hanya sebatas pemberian obat. Puskesmas Manggar menekankan manajemen terpadu bagi pasien diabetes melalui edukasi, perubahan gaya hidup, dan pemantauan rutin agar komplikasi dapat dicegah.
Strategi ini dilakukan secara konsisten dengan melibatkan tenaga kesehatan, pasien, serta program-program proaktif masyarakat.
Kristyaning Melinda Trisnia, Perawat sekaligus Pemegang Program Penyakit Tidak Menular (PTM) Puskesmas Manggar, menjelaskan bahwa frekuensi evaluasi pasien disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
Pasien dengan hasil pemeriksaan gula darah normal dievaluasi setiap enam bulan, pasien dengan kondisi pre-diabetes dievaluasi setiap tiga bulan, dan pasien yang sudah terdiagnosis diabetes dievaluasi setiap bulan.
“Setiap evaluasi, kami selalu menekankan pentingnya menjaga pola hidup sehat. Batasi konsumsi makanan dan minuman manis, karbohidrat, dan tepung-tepungan. Hindari begadang dan pastikan rutin berolahraga,” ujarnya, Sabtu, 15 November 2025.
Puskesmas Manggar juga mendorong masyarakat untuk ikut senam Germas setiap bulan, sebagai bentuk olahraga teratur yang dapat membantu menurunkan risiko komplikasi diabetes.
Selain edukasi gaya hidup, kepatuhan minum obat menjadi aspek penting dalam manajemen diabetes. Melinda menekankan bahwa pasien dianjurkan melakukan kontrol sebelum obat habis, misalnya ketika sisa dosis tinggal 2–5 kali minum.
Langkah ini memastikan pasien tetap mendapatkan pengobatan tepat waktu dan mencegah lonjakan gula darah akibat kelalaian minum obat.
Puskesmas Manggar juga bekerja sama dengan program Prolanis BPJS untuk pemantauan jarak jauh. Melalui grup WhatsApp, pasien menerima edukasi rutin, pengingat kontrol obat, serta informasi kesehatan tambahan.
Selain itu, evaluasi laboratorium rutin dilakukan setiap enam bulan bekerja sama dengan Laboratorium Prodia, untuk memantau kondisi gula darah, kolesterol, dan parameter kesehatan lainnya.
Langkah pencegahan komplikasi juga meliputi pemeriksaan mata bekerja sama dengan RS Mata SMEC, mengingat diabetes dapat memicu kerusakan retina jika tidak dikontrol dengan baik.
Dengan pendekatan terpadu antara edukasi, olahraga, kontrol obat, dan pemeriksaan rutin, Puskesmas Manggar berupaya meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes sekaligus mencegah risiko komplikasi serius.
Strategi ini menunjukkan bahwa pengelolaan diabetes yang efektif memerlukan kolaborasi aktif antara tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga, serta komitmen untuk menjalani pola hidup sehat secara konsisten.
Melalui langkah-langkah ini, Puskesmas Manggar membuktikan bahwa diabetes bukan hanya penyakit yang harus dikendalikan dengan obat, tetapi juga penyakit yang dapat dicegah dan dikelola melalui gaya hidup sehat dan pemantauan rutin. (*/ADV/jan)















