LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN – Upaya pemberantasan penyakit menular, khususnya tuberkulosis (TBC), terus digencarkan oleh Puskesmas Manggar. Melalui kegiatan Pemberdayaan Kader Kesehatan untuk Pencegahan Penyakit Menular dan Tidak Menular, puskesmas ini mengajak kader di tingkat Rukun Tetangga (RT) agar menjadi garda terdepan dalam deteksi dini dan edukasi masyarakat.
Penanggung jawab program TB Puskesmas Manggar, Olivia Damopoli, Amd.Kep, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pelatihan sebelumnya yang menitikberatkan pada peningkatan pemahaman kader terkait pencegahan dan penanganan penyakit TBC serta penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus.
“Kader itu ujung tombak kami di lapangan. Mereka yang paling dekat dengan masyarakat. Jadi kami berikan pembekalan agar bisa mengenali gejala awal, memberi edukasi, dan memotivasi warga yang terduga TBC untuk mau memeriksakan diri,” ujar Olivia usai kegiatan, Kamis (7/11/2025).

Dalam sesi pemberdayaan ini, para kader mendapatkan penjelasan mengenai gejala umum TBC, antara lain batuk lebih dari dua minggu, badan lemas, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Masyarakat yang mengalami gejala tersebut diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Kalau ada warga yang batuk lebih dari dua minggu, jangan dianggap sepele. Segera periksa ke puskesmas atau faskes manapun. Pemeriksaan dahak menjadi langkah utama untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi atau tidak,” jelasnya.
Olivia juga mengungkapkan bahwa kasus TBC di Balikpapan, termasuk wilayah Manggar, mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir.
“Sejak saya pegang program ini, jumlah pasien yang kami tangani mencapai sekitar 40 orang. Itu belum termasuk yang berobat di rumah sakit. Tahun lalu totalnya sekitar 47 pasien,” paparnya.
Meski begitu, ia memastikan penanganan TBC sudah berjalan sesuai standar dengan pengobatan selama minimal enam bulan tanpa jeda.
“Pasien wajib minum obat setiap hari selama enam bulan penuh. Kami juga melakukan pemantauan berkala, yaitu pemeriksaan dahak di bulan kedua, kelima, dan keenam untuk memastikan proses penyembuhan berjalan baik,” katanya.
Lebih lanjut, Olivia menegaskan bahwa penularan TBC terjadi melalui udara atau droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, bukan karena faktor keturunan.
“TBC itu bukan penyakit turunan atau guna-guna seperti anggapan sebagian masyarakat. Ini murni disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menular lewat udara,” tegasnya.
Kegiatan yang digelar di wilayah kerja Puskesmas Manggar tersebut dihadiri oleh sekitar 100 kader perwakilan dari 61 RT se-Balikpapan Timur. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama sesi diskusi dan tanya jawab.
“Banyak yang bertanya karena mereka ternyata sering menjumpai kasus batuk lama di lingkungan sekitar tapi tidak tahu harus berbuat apa. Ini yang ingin kami ubah. Kader harus jadi perpanjangan tangan puskesmas untuk mengedukasi masyarakat,” tutur Olivia.
Ia berharap dengan adanya kegiatan pemberdayaan ini, masyarakat tidak lagi takut atau malu untuk memeriksakan diri ke puskesmas ketika mengalami gejala TBC.
“Kami ingin menghapus stigma negatif bahwa TBC itu penyakit memalukan. Justru kalau cepat dideteksi dan diobati, bisa sembuh total. Kader kami harap bisa jadi motivator agar masyarakat tidak takut,” pungkasnya.(*/ADV/puskesmas Manggar/san)















