BALIKPAPAN, lintasraya.com – Ratusan sopir truk bermuatan berat (kontainer) lakukan aksi demo dan mogok kerja. Aksi tersebut berlangsung di kilometer 13, Pelabuhan Kaltim Kariangau Terminal (KKT), Kamis (17/3/2022) sore.
Dalam aksi ini, tampak terlihat puluhan truk kontainer terparkir di sejumlah bahu jalan keluar-masuk pelabuhan KKT. Lengkap dengan spanduk bertuliskan keluhan para sopir.
Bahkan tak sedikit truk kontainer yang baru datang untuk mengangkut barang diberhentikan dan dilarang untuk beroperasi. Hal tersebut dilakukan demi kesetiakawanan para sopir dalam memperjuangkan aspirasi mereka.
Perwakilan sopir truk kontainer, Hendra menjelaskan, para sopir sangat susah mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi untuk kendaraan yang mereka bawa. Bahkan dirinya harus rela antre berhari-hari demi mendapatkan solar untuk menafkahi keluarganya sebagai pekerjaan sopir truk bermuatan berat.
“Untuk dapat solar kami harus antre sampai tiga hari tiga malam. Belum lagi kita muat barang. Habis waktu kami disitu saja,” keluhnya kepada awak media.
Tak hanya persoalan solar, diberlakukannya Surat Edaran (SE) wali kota pun menjadi momok bagi pria yang sudah 10 tahun menggeluti profesi sopir ini.
“Tiga hari kami antre solar, terus jam kerja dibatasi. Harus diatas jam 10 malam. Orang lain tidur pulas kami baru bekerja, Kapan waktu kita untuk keluarga,” ucapnya.
“Jadi kami berharap Pemerintah kota Balikpapan mencabut Kebijakan itu. Karena sangat merugikan kami,” tambahnya.
Dirinya merincikan, jika kendaraan jenis tronton, pemakaian solar itu sebanyak 200 liter dan kini dibatasi hanya boleh beli Rp 1 juta saja. Beda lagi dengan kendaraan jenis trailer, itu lebih banyak lagi pemakaiannya.
“Kami beli pun dibatasi. Ini sudah kami alami sejak empat bulan terakhir,” ungkapnya.

Hendra mengaku, empat bulan terakhir ini, sistem kerjanya dianggap seperti gotong royong. Karena biaya makan bertambah akibat mengantre solar selama berhari-hari dan itu diambil dari gaji mereka.
“Untuk makan, minum dan rokok Sehari saja itu sudah Rp 100 ribu lebih. Tiga hari berapa memang ? Habis gaji kita disitu saja,” bebernya.
Ia berharap, pemerintah kota memperhatikan nasi para sopir. Pertama cabut kebijakan larangan jam malam, kedua BBM solar subsidi harus di tambah.
Ditempat yang sama, Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kaltim, Ibrahim menambahkan, mewakili seluruh captain (sapaan para sopir truk) meminta kebijakan pemerintah kota Balikpapan terkait SE jam operasional muatan berat dicabut. Karena sangat berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak.
Pertama, pendistribusi muatan barang akan terhambat. Memakan dua sampai tiga hari untuk satu rit. Kedua, menambah cost para sopir.
“Sebelum adanya kebijakan ini, sehari bisa 3-4 rit. Tapi sekarang enggak bisa,” katanya.
Dirinya menyebut, para sopir ini adalah jembatan masyarakat untuk mendapatkan barang, baik sembako maupun material lainnya. Tapi jika kondisinya seperti ini akan menyebabkan harga-harga semua melonjak naik.
“Mereka antre solar berhari-hari. Baru kerjanya diatas jam 10 malam sampai jam 5 pagi. Kasihan kan, waktunya orang tidur tapi mereka harus bekerja. Kapan istirahat dan buat keluarga mereka,” ungkap Ibrahim.
Sekali lagi, dirinya meminta segera cabut SE tersebut. Kemudian terkait solar, diharapkan pemerintah bersama instansi terkait untuk menambah kuota solar subsidi.
“Kalau solar subsidi terbatas, kami akan beli solar industri tapi konsekuensinya akan terjadi inflasi. Kasihan masyarakat. Dan kalau aksi ini tidak di respon pemerintah, dengan terpaksa kami akan mogok. Tidak ada barang yang keluar dari KKT ini. Termasuk sembako dan material lainnya. Anggota kami ada 1.800 yang tergabung,” pungkasnya.(*/wan)















