LINTASRAYA.COM, YOGYAKARTA – Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, membuka kegiatan Upstream Oil and Gas Executive Meeting wilayah Kalimantan dan Sulawesi yang digelar SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Acara berlangsung pada 4-5 Desember 2024 di Yogyakarta dengan mengusung tema “Sinergi Pemerintah dan Pelaku Sektor Hulu Migas untuk Mendukung Kebijakan Swasembada Pangan dan Energi”.
Kegiatan ini dihadiri oleh para kepala daerah, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), serta perwakilan KKKS dari Kalimantan dan Sulawesi. Ketua Panitia, Movina Nasriati dari Eni Indonesia, serta Kepala Perwakilan SKK Migas Kalsul, Azhari Idris, turut mendampingi jalannya acara.
Azhari Idris menegaskan pentingnya harmonisasi kegiatan hulu migas dengan kebijakan pemerintah terkait ketahanan pangan dan energi. “Eksplorasi dan pengembangan migas harus mendukung program swasembada pangan tanpa merugikan sektor pertanian. Dengan sinergi yang baik, kedua sektor ini dapat berjalan beriringan,” ungkap Azhari.
Potensi dan Tantangan Hulu Migas di Kalimantan dan Sulawesi
Kawasan Kalimantan dan Sulawesi menyumbang kontribusi besar terhadap produksi migas nasional. Hingga kini, Kalsul menyumbang 12% produksi minyak dan 30% produksi gas nasional. Proyek-proyek besar seperti pengembangan lapangan IDD oleh Eni Indonesia, eksplorasi Geng North, dan pengembangan Senoro Selatan oleh JOB Tomori terus menggeliat.
Namun, tantangan operasional juga tak kalah besar. Beberapa isu yang mengemuka termasuk pengelolaan lahan pertanian berkelanjutan (LP2B), konflik sosial, dan area operasi yang terpencil. “Dukungan dari pemerintah daerah dan stakeholder sangat diperlukan untuk mengatasi kendala ini,” ujar Azhari.
Sinergi Menuju Transisi Energi Berkelanjutan
Direktur Sumber Daya Energi, Mineral, dan Pertambangan Kementerian PPN/Bappenas, Nizhar Marizi, menekankan peran gas bumi sebagai sumber energi transisi menuju energi terbarukan. “Gas bumi adalah solusi ideal untuk mendukung ketahanan energi nasional, terutama dalam masa transisi menuju energi rendah karbon,” jelas Nizhar.
Isu lain yang dibahas adalah pengaktifan kembali sumur-sumur idle untuk meningkatkan lifting migas. Pendekatan ini diharapkan mampu menopang produksi nasional di tengah upaya transisi energi menuju era dekarbonisasi.
Komitmen Pengelolaan Lahan Pertanian dan Migas
Salah satu tantangan utama adalah alih fungsi lahan pertanian untuk kepentingan hulu migas. Azhari menyoroti pentingnya pemenuhan regulasi terkait LP2B agar kebutuhan pengembangan migas tetap sejalan dengan kebijakan ketahanan pangan. Dua area yang sedang dalam proses LP2B adalah Energy Equity Epic Sengkang di Wajo dan JOB Tomori di Banggai.
Dukungan Pemerintah dan Stakeholder
Gubernur Rusdy Mastura menyampaikan apresiasi terhadap peran industri hulu migas yang telah berkontribusi besar bagi perekonomian daerah. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mewujudkan swasembada energi.
“Dengan dukungan dari pemerintah daerah dan kolaborasi yang erat, kita dapat memastikan kelancaran operasi migas sekaligus menjaga keberlanjutan sektor lainnya,” tutup Azhari.
Acara ini diharapkan menjadi momentum penguatan kerja sama lintas sektor dalam mendukung target pemerintah untuk mencapai kemandirian energi dan pangan di masa depan.(*/Wan)















