LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Puskesmas Gunung Bahagia mencatat lonjakan signifikan kasus HIV baru sepanjang tahun 2025. Bila tahun sebelumnya tidak ditemukan kasus baru, tahun ini lebih dari 20 warga terdeteksi reaktif HIV berdasarkan hasil pemeriksaan awal (reagen 1). Hal tersebut disampaikan Yusinta Annisa Wati, S.Tr.Keb., Bidan di Puskesmas Gunung Bahagia.
“Tahun lalu itu yang positif baru tidak ada, nol. Tahun ini sudah lebih dari 20 orang yang reaktif. Itu baru kasus baru, bukan pasien yang sedang menjalani pengobatan,” ungkapnya, saat ditemui di kantornya, Rabu (26/11/2025).
Yusinta menyebut temuan kasus berasal dari beragam kelompok usia. Mayoritas pasien berada di usia 20–25 tahun ke atas, namun ada pula kasus yang ditemukan pada usia 16 tahun.
“Macam-macam usianya. Mayoritas dua puluhan ke atas, tapi memang ada yang usia 16 tahun,” jelasnya.
Yusinta menerangkan bahwa Puskesmas Gunung Bahagia tidak memiliki fasilitas lengkap untuk menegakkan diagnosis HIV, karena bukan Puskesmas Pelaksana Layanan PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan). Fasilitas pemeriksaan di Puskesmas hanya tersedia reagen 1, sehingga pasien yang reaktif harus dirujuk.
“Di sini hanya screening awal. Kalau reaktif, kita rujuk ke Puskesmas PDP untuk pemeriksaan reagen 2 dan 3. Kalau dua-duanya juga reaktif, baru dinyatakan positif HIV,” ujarnya.
Beberapa Puskesmas PDP berada di wilayah kota dan buka layanan lebih lengkap, termasuk pemeriksaan lanjutan 24 jam.
Yusinta menuturkan, pihaknya sering memantau langsung pasien yang sudah dinyatakan reaktif agar tidak melewatkan pemeriksaan lanjutan. Namun, beberapa pasien terkadang enggan datang karena merasa malu atau takut.
“Kadang saya hubungi terus. Tapi ada juga yang tidak melanjutkan pemeriksaan karena malu. Ada kasus di Sepinggan, ibu hamil yang reaktif pun sempat tidak datang ke Puskesmas rujukan,” katanya.
Menurut Yusinta, dari temuan di lapangan, sebagian besar kasus dipicu oleh perilaku seksual berisiko, terutama ketidaksetiaan pasangan.
“Mayoritas karena pasangan tidak setia. Ada juga temuan dari hubungan sesama jenis laki-laki (LSL). Untuk kasus narkoba lewat jarum suntik, hampir tidak ada di Gunung Bahagia,” ungkapnya.
Ia menegaskan edukasi harus menyasar seluruh masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu.
“Edukasinya bukan hanya untuk kelompok tertentu. Semua orang harus tahu supaya peduli dengan keluarganya. Kalau tidak, nanti bisa menular ke istri, bahkan ke anak,” tegasnya.
Yusinta mengimbau masyarakat, terutama pasangan yang hendak menikah, untuk melakukan pemeriksaan HIV secara rutin.
“Paling tidak jaga hidup sehat dan setia pada pasangan. Kalau ada risiko, periksa saja. Pemeriksaan pranikah bisa dilakukan di mana saja, tidak harus sesuai domisili,” jelasnya.(*/ADV/puskesmas Gunung Bahagia)















