LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN – Program *Kota Kita* yang diinisiasi oleh Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Balikpapan mendapat dukungan penuh dari Pemkot Balikpapan.
Staf Ahli Setdakot Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, mewakili pemerintah kota dalam peluncuran program ini, menyampaikan apresiasi atas langkah nyata yang diambil Disperkim dalam menangani kawasan kumuh di Kota Balikpapan, khususnya di Kelurahan Gunung Sari Ulu.
Neny menjelaskan bahwa program *Kota Kita* tidak hanya fokus pada penyediaan air bersih bagi masyarakat. Lebih dari itu, program ini juga membuka peluang bagi peningkatan ekonomi warga, terutama di daerah yang selama ini kesulitan mendapatkan akses air bersih. “Kami sangat mengapresiasi program ini. Bukan hanya karena membantu masyarakat mendapatkan air bersih, tapi juga karena *Kota Kita* mampu meningkatkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.
Menurutnya, inisiatif ini merupakan wujud nyata dari pembangunan berkelanjutan yang tak hanya memperhatikan aspek fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi masyarakat. Program ini memungkinkan warga menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penerima manfaat. “Melalui *Kota Kita*, masyarakat bukan lagi hanya objek pembangunan, tetapi mereka juga menjadi subjek utama perubahan. Ini yang membuat program ini istimewa,” tambahnya.
Selain memberikan bantuan sumur bor dalam di RT 35, warga dilibatkan langsung dalam pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas tersebut. Hal ini terjadi berkat kolaborasi lintas sektor yang diterapkan dalam program *Kota Kita*, melibatkan berbagai pihak mulai dari pemerintah, swasta, akademisi, media, hingga masyarakat itu sendiri. “Kerja sama lintas sektor ini menjadi kunci utama. Kami yakin, dengan semangat kolaborasi ini, *Kota Kita* akan mampu membawa perubahan positif bagi Balikpapan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) Sumur Air Dalam, Victor Simatupang, mengungkapkan bahwa sejak sumur bor dalam dibangun pada 2022, sebanyak 80 keluarga di RT 35 sudah merasakan manfaat air bersih. Kini, dengan adanya dukungan dari program *Kota Kita*, sambungan air akan ditambah untuk 100 keluarga lagi. “Kami menargetkan sumur ini bisa memenuhi kebutuhan hingga 700 keluarga, dengan kapasitas produksi air mencapai 36 liter per detik,” kata Victor.
Proses penyambungan dilakukan secara bertahap, namun saat ini air bersih dari sumur bor dalam sudah melayani warga di empat RT, yakni RT 29, RT 35, RT 37, dan RT 40. Totalnya, ada sekitar 1.200 hingga 1.600 jiwa yang terbantu dengan adanya suplai air bersih ini.
Victor juga menambahkan bahwa pihaknya berharap agar layanan air bisa terus mengalir 24 jam tanpa perlu sistem bergilir seperti sebelumnya. “Kami ingin layanan air dari sumur ini bisa seperti PDAM. Buka keran, air langsung mengalir, tanpa kendala,” harapnya.
Program *Kota Kita* memang tidak hanya menawarkan solusi untuk persoalan air bersih di Gunung Sari Ulu, tetapi juga berpotensi untuk diimplementasikan di kawasan kumuh lainnya di Balikpapan. Dengan kolaborasi pentahelix yang melibatkan berbagai elemen, Disperkim optimis bisa menuntaskan masalah kawasan kumuh yang masih tersisa, dan mewujudkan Balikpapan sebagai kota yang lebih layak huni untuk semua warganya.
Hingga kini, kawasan kumuh di Balikpapan tersisa sekitar 100 hektare, dengan beberapa kelurahan seperti Karang Jati dan Sepinggan Raya yang juga menghadapi masalah serupa terkait akses air bersih. Melalui kerja sama lintas sektor, Disperkim menargetkan semua kawasan kumuh di Balikpapan bisa bebas dari permasalahan ini pada 2026. (*/Adv/diskominfo Balikpapan)















