LINTASRAYA.COM, PENAJAM – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan dan pelestarian budaya di Kalimantan Timur melalui program “PPU Umo Budaya Taka.”
Dengan semangat sebagai “ladang budaya,” PPU berupaya menciptakan ruang untuk mengolah, memelihara, dan memanfaatkan kebudayaan demi kesejahteraan masyarakat serta sebagai upaya pembangunan nonfisik yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Andi Israwati, mengungkapkan bahwa upaya pelestarian budaya di PPU telah membuahkan berbagai prestasi baik di tingkat provinsi maupun nasional. “Salah satunya, PPU berhasil meraih Juara 1 di Festival Tari Pesisir di Kalimantan Timur, serta Juara 2 tingkat nasional dalam kompetisi olahraga tradisional,” jelasnya.
Lebih lanjut, PPU juga mendapat pengakuan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan ditetapkannya dua budaya lokal sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional, yakni Betore dan Tambak Pulut. “Pengakuan ini sangat penting untuk melestarikan identitas budaya PPU dan menjadikannya kekayaan nasional,” ujar Israwati.
Selain itu, pembentukan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten PPU merupakan langkah strategis untuk melindungi warisan budaya. TACB telah menyusun daftar Objek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan sedang memproses usulan agar dapat ditetapkan sebagai Cagar Budaya resmi. “Dengan penetapan ini, kami berharap dapat menjaga keberlangsungan dan nilai sejarah objek budaya di PPU untuk generasi mendatang,” tambahnya.
Sertifikasi tenaga kebudayaan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang budaya. Sejauh ini, lima orang dari berbagai disiplin seni di PPU, termasuk juri seni pertunjukan, penari, dan pengajar seni, telah menerima sertifikasi. “Sertifikasi ini memastikan kompetensi mereka dalam melestarikan seni budaya, serta memperkuat kontribusi mereka pada pertunjukan dan pelatihan seni di daerah,” jelasnya.
Tidak hanya dalam seni pertunjukan, PPU juga mengembangkan bidang kebahasaan. Bersama Kantor Bahasa Kemendikbudristek RI, PPU kini memiliki tiga guru besar Bahasa Paser yang diakui secara resmi dan ditugaskan untuk memperkuat literasi serta memperkaya komunitas bahasa lokal di PPU.
Melalui seluruh inisiatif ini, Andi Israwati berharap agar pembangunan kebudayaan di PPU tidak hanya menjadi sekadar program tetapi mampu menciptakan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. “Semoga semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah daerah, dapat bersama-sama menjaga dan mengembangkan kebudayaan lokal agar tetap lestari dan menjadi identitas kebanggaan PPU,” tutupnya.
Dengan semangat Umo Budaya Taka, PPU bertekad menjadi pusat pengembangan budaya yang dinamis, membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melanjutkan warisan budaya nenek moyang.(*/ADV/DiskominfoPPU/wan)















