LINTASRAYA.COM, MOJOKERTO – Dari Desa “Pinggiran” Menjadi Percontohan Nasional, Kisah Ketapanrame Mengubah Wisata Menjadi Jalan Kesejahteraan
Di kaki pegunungan Trawas, udara dingin turun perlahan menyelimuti Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kabut tipis menggantung di sela pepohonan, sementara aroma kopi dari lereng perbukitan bercampur dengan suara pengunjung yang mulai memenuhi kawasan wisata desa.
Dulu, desa ini hanya dikenal sebagai wilayah “ujung” Mojokerto. Sebelah timurnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasuruan. Namun hari ini, Ketapanrame justru menjadi salah satu contoh desa wisata nasional yang banyak dikunjungi tamu dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan.
“Secara geografis kami ini seperti desa yang terpinggirkan. Tapi justru dari posisi itu kami belajar bagaimana memanfaatkan apa yang kami punya,” ujar Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin, saat menerima rombongan media dan Bank Indonesia, Jumat (22/5/2026).

Ketapanrame berada di kawasan pegunungan yang diapit dua gunung, dengan lanskap perkebunan, udara sejuk, serta jejak sejarah Majapahit yang masih hidup di tengah masyarakat. Di wilayah ini terdapat sejumlah situs budaya dan spiritual, salah satunya Pemandian Jolotundo yang setiap tahun ramai dikunjungi wisatawan, termasuk umat Hindu dari Bali.
Namun sebelum menjadi desa wisata, Ketapanrame pernah menghadapi banyak persoalan klasik desa pegunungan: pendidikan rendah, ekonomi lemah, hingga minimnya lapangan pekerjaan.
“Dulu potensi kami banyak yang tidur. Wisata belum berkembang, masyarakat juga belum percaya kalau desa ini bisa maju,” kata Zainul.
Perubahan mulai dirintis sejak sekitar tahun 2010. Pemerintah desa memilih satu jalan: membangun desa lewat potensi wisata dan pemberdayaan warga.
Aset-aset desa yang sebelumnya hanya menjadi lahan garapan perangkat desa mulai dialihkan pengelolaannya kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dari situlah berbagai usaha tumbuh: wisata, kandang ternak komunal, kios UMKM, pengelolaan sampah, hingga sistem distribusi air bersih dari sumber mata air pegunungan.
“Semua aset desa kami arahkan supaya manfaatnya tidak hanya untuk perangkat desa, tapi bisa dirasakan masyarakat luas,” ujar Zainul.
Langkah itu kemudian melahirkan sejumlah destinasi wisata desa seperti Taman Ghanjaran dan Sumber Gempong yang kini menjadi magnet wisata di kawasan Trawas.
Di balik ramainya pengunjung, ada model ekonomi desa yang tidak biasa. Ketapanrame tidak hanya mengandalkan bantuan pemerintah, tetapi mengajak warganya ikut menjadi investor melalui program “urunan dana”.
Satu keluarga diperbolehkan membeli maksimal sepuluh slot investasi dengan nilai Rp1 juta per slot. Dana itu digunakan membangun wahana wisata dan fasilitas pendukung.
Hasilnya mengejutkan. Dana masyarakat yang terkumpul mencapai hampir Rp5 miliar.
“Warga kami tidak hanya jadi penonton. Mereka ikut memiliki wisata ini,” kata Zainul.
Dari sistem itu, masyarakat menerima pembagian hasil rutin setiap bulan. Bahkan pada musim libur, keuntungan warga bisa mencapai jutaan rupiah.
Yang menarik, pembagian keuntungan dilakukan secara terbuka. Pendapatan tiket wisata dibagikan setiap hari melalui grup WhatsApp warga. Semua laporan keuangan direkap dan diumumkan secara berkala sebelum dana ditransfer ke rekening investor desa.
Transparansi itu membuat kepercayaan masyarakat terus tumbuh.
Kini desa wisata Ketapanrame bukan hanya tempat rekreasi. Ia menjadi ekosistem ekonomi yang menghidupi ribuan warga.
Mulai dari pengelola parkir, pelaku UMKM, homestay, petani kopi, hingga kelompok investasi desa ikut menikmati perputaran ekonomi wisata.
Dari sekitar 1.976 kepala keluarga, lebih dari seribu KK disebut sudah menjadi bagian dari rantai ekonomi desa wisata.
“Kalau dulu banyak warga mencari kerja ke kota, sekarang cukup bekerja di desa,” ujar Zainul.
BUMDes Ketapanrame pun berkembang pesat. Pada 2024, laba BUMDes sempat menembus sekitar Rp4,4 miliar. Meski sempat mengalami penurunan karena persaingan wisata baru di kawasan Trawas, desa ini tetap optimistis pendapatan kembali meningkat pada 2026.
Sebagian laba BUMDes digunakan untuk kesejahteraan sosial masyarakat: bantuan kesehatan, ambulans desa, pendidikan, hingga rehabilitasi rumah warga kurang mampu.
“Wisata ini bukan hanya soal tiket masuk, tapi bagaimana keuntungan itu kembali ke masyarakat,” ucapnya.
Perjalanan Ketapanrame juga tidak lepas dari pendampingan Bank Indonesia (BI).
Melalui pengembangan ekonomi desa berbasis wisata dan kopi, BI membantu berbagai kebutuhan mulai dari mesin pengolahan kopi, genset kapasitas besar, mesin roasting, alat kasir digital, hingga fasilitas pendukung wisata.
Tidak hanya itu, BI juga mendampingi petani dan pelaku UMKM mulai dari proses budidaya kopi, pengolahan, branding, hingga pemasaran nasional dan internasional.
“Kopi kami dulu hanya dikenal lokal. Sekarang mulai dikenal sampai luar negeri,” kata Zainul.
Ia mengungkapkan produk turunan kopi dari Ketapanrame bahkan sempat diminati pasar Jepang dan China. Namun saat itu desa masih terkendala legalitas ekspor dan sertifikasi halal internasional.
“Bank Indonesia membantu kami mengurus legalitas, sertifikat halal, sampai pembentukan PT supaya produk kami bisa naik kelas,” tuturnya.
Berkat pendampingan itu, produk kopi dan olahan UMKM Ketapanrame kini mulai rutin tampil di berbagai pameran nasional.
Transformasi Ketapanrame perlahan mengubah wajah desa. Yang dulu dianggap desa pinggiran, kini justru menjadi lokasi studi banding berbagai daerah dan perguruan tinggi. Pemerintah desa menyebut tamu dari Kalimantan hingga Sulawesi kerap datang untuk belajar pengelolaan desa wisata.
Ketapanrame juga meraih sejumlah penghargaan nasional, mulai dari desa wisata terbaik, BUMDes terbaik nasional, hingga Desa Brilian. Namun bagi Zainul, penghargaan terbesar bukanlah piala.
“Yang paling penting sekarang masyarakat sudah percaya bahwa desa ini bisa maju kalau dibangun bersama-sama,” katanya.
Di tengah dinginnya lereng Trawas, Ketapanrame membuktikan satu hal sederhana: desa tidak harus memiliki pantai indah atau gedung mewah untuk berkembang. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian melihat potensi yang selama ini tertidur, lalu menggerakkannya bersama-sama.(*/san)















