LINTASRAYA.COM, MOJOKERTO — Hamparan sawah terasering di Desa Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tampak berbeda dari kebanyakan kawasan pertanian lainnya. Di sela hijaunya tanaman padi organik, berdiri warung kuliner sawah, galeri produk olahan, hingga ruang edukasi pertanian yang kini ramai dikunjungi masyarakat.
Kawasan itu merupakan bagian dari Komunitas Organik Brenjonk, sebuah komunitas petani yang selama hampir dua dekade mengembangkan sistem pertanian organik terpadu berbasis pemberdayaan masyarakat desa.
Ketua Internal Control System (ICS) Komunitas Organik Brenjonk, Slamet, mengatakan pertanian organik yang dikembangkan di wilayahnya bukan sekadar menghasilkan produk sehat, tetapi juga menjadi upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus memperkuat ekonomi petani kecil.
“Pertanian organik itu sebenarnya bukan hanya soal produk, tapi proses. Di dalamnya ada prinsip ekonomi, ekologi, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Slamet saat menerima kunjungan rombongan di kawasan Brenjonk, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, sistem organik yang diterapkan di Brenjonk menggunakan konsep pertanian tertutup atau sustainable organic farming. Seluruh limbah pertanian dan peternakan diputar kembali menjadi sumber nutrisi tanah tanpa bergantung pada input kimia dari luar.
Jerami sisa panen, misalnya, tidak dibakar melainkan dikomposkan kembali ke lahan. Limbah ternak sapi dan kambing diolah menggunakan mikroorganisme untuk menghasilkan pupuk organik.
“Kalau jerami dibakar itu menghasilkan emisi karbon dan memicu pemanasan global. Di sini semuanya diputar kembali ke tanah,” kata slamet yang juga sebagai inisiator kampung organik Brenjonk.
Brenjonk bahkan memiliki laboratorium mikroorganisme sendiri yang mampu memperbanyak sembilan jenis mikroba untuk membantu kesuburan tanah secara alami.
Slamet menyebut pendekatan tersebut membuat lahan pertanian lebih tahan terhadap perubahan iklim karena kemampuan tanah menyimpan air menjadi lebih baik.
“Kalau organik, struktur tanahnya hidup. Air hujan lebih banyak terserap sehingga tidak mudah banjir dan tetap punya cadangan air saat kemarau,” jelasnya.
Komunitas Brenjonk sendiri mulai menerapkan sistem organik secara bertahap sejak 2007 setelah sebelumnya menggunakan pola pertanian konvensional. Meski di awal tidak semua petani tertarik karena metode organik dianggap lebih rumit, kini hasilnya mulai terlihat.
Produktivitas padi organik di kawasan itu mencapai 5 hingga 6 ton per hektare dengan biaya produksi yang justru semakin menurun dari tahun ke tahun.
“Kalau konvensional biaya produksinya bisa sampai Rp5 juta per hektare. Organik memang pelan di awal, tapi semakin lama tanah semakin sehat dan biaya makin turun,” ujar Slamet.
Selain padi putih, petani Brenjonk juga mengembangkan beras merah, hitam, coklat hingga pandan wangi yang dipasarkan sebagai produk premium. Harga beras organik mereka berkisar Rp17 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, jauh di atas harga beras biasa.
Tak hanya beras, komunitas tersebut juga memproduksi sayuran organik serta aneka produk turunan pangan yang dijual di pasar premium seperti Superindo, Ranch Market hingga Papaya Fresh Gallery.
“Tujuan kami bagaimana petani kecil, termasuk ibu rumah tangga di desa, bisa mengakses pasar modern,” katanya.
Keseriusan komunitas itu dalam menjaga standar organik juga dibuktikan dengan penerapan sistem Internal Control System (ICS) yang ketat. Seluruh proses budidaya hingga distribusi harus terdokumentasi dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) organik sebelum mendapatkan sertifikasi resmi.
“Semua proses harus direkam. Ini memang bukan budaya petani, jadi perlu pendampingan bertahun-tahun sebelum siap disertifikasi,” ujar Slamet.
Perjalanan panjang Brenjonk juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia Jawa Timur sejak 2018 melalui penguatan sumber daya manusia, sekolah lapang pertanian organik, hingga pembangunan fasilitas edukasi dan pengemasan produk.
Kini, kawasan Brenjonk berkembang menjadi destinasi wisata edukasi pertanian yang ramai dikunjungi. Setiap bulan, sekitar 8.500 orang datang menikmati kuliner sawah, belajar pertanian organik, hingga melihat proses pengemasan sayuran premium.
Perputaran ekonomi dari sektor kuliner di kawasan seluas sekitar lima hektare itu bahkan mencapai Rp300 juta per bulan.
“Dulu tidak ada orang luar datang ke sini. Sekarang banyak yang datang hanya untuk ngopi, makan, atau belajar pertanian organik,” kata Slamet.
Ia juga menilai model pertanian terpadu seperti Brenjonk sangat mungkin direplikasi di daerah lain, termasuk di luar Jawa, karena mampu menghubungkan sektor pertanian, peternakan, kuliner, hingga pariwisata desa dalam satu ekosistem ekonomi.
Meski demikian, tantangan regenerasi petani masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dari total 109 anggota komunitas, sekitar 20 persen di antaranya merupakan petani muda berusia 20 hingga 34 tahun.
“Krisis regenerasi petani memang terjadi di mana-mana. Tapi kami terus melakukan sosialisasi agar anak muda tertarik kembali ke pertanian,” ujarnya.
Menurut Slamet, pertanian organik tidak hanya mampu menghasilkan pangan sehat, tetapi juga menjadi jalan bertahan menghadapi berbagai krisis.
“Waktu Covid kami tetap bertahan. Saat harga pupuk naik atau dolar naik juga tidak terlalu berpengaruh karena sumber pupuk kami ada di sekitar sendiri. Jadi petani bisa lebih mandiri,” katanya.(*/san)















