SAMARINDA, lintasraya.com – Semakin berkembangnya teknologi, semakin banyak pula informasi yang diterima oleh masyarakat. Namun, jika tidak memiliki fondasi norma yang kuat atau melek media, maka bisa terjerumus ke hal-hal yang negatif.
Seperti yang terjadi belakangan ini. Dimana, anak tingkat SD hingga SMA sudah lekat dengan digital. Hampir 24 jam mereka pasti memegang handphone dan dipastikan sebagian besar melihat konten yang ada di sosial media.
Menurut Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim Noryani Sorayalita, disinilah peran orangtua begitu penting dalam menjaga anaknya untuk tidak menjadi korban maupun pelaku kekerasan seksual.
“Kita harus saling menjaga. Karena sebagian besar kekerasan seksual dilakukan oleh orang terdekat, keluarga ataupun orang yang dikenal korban. Contohnya saudara yang yang saling terpisah lama, berkumpul lagi, itu kan belum ada keterikatan persaudaraan, itu berpotensi besar akan terjadi kekerasan seksual,” beber Soraya.
Soraya menyatakan, orangtua perlu memberikan pemahaman kepada anaknya bagaimana pergaulan yang sehat beserta caranya. Orangtua tidak perlu menasehati dengan cara kekerasan atau nada tinggi, karena anak saat ini sifatnya tidak bisa dilarang. Orangtua harus memberikan alasan dan sebab-akibat dalam pergaulan.
“Jadi orangtua harus menstimuasikan bergaul sehat itu seperti apa, bergaul yang baik seperti apa, memilih teman seperti apa. Jadi bergaul bebas sih tapi terbatas,” tegasnya.
Melalui pemberian pemahaman tersebut, maka terbentuknya lingkungan keluarga yang sehat. Yang tua mengayomi, yang muda menghormati. Dari situ, anak bisa lebih memahami betapa bahayanya kekerasan seksual.(HLD)















