LINTASRAYA.COM, SAMARINDA — Program Gratispol seragam gratis yang dijalankan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mulai dirasakan manfaatnya oleh ribuan siswa baru SMA, SMK, dan SLB di 10 kabupaten dan kota. Program tersebut mendapat banyak respons positif dari siswa maupun orang tua karena dinilai mampu meringankan beban biaya pendidikan saat tahun ajaran baru.
Melalui anggaran sebesar Rp65 miliar dari APBD Kaltim 2025, pemerintah menyalurkan sekitar 65 ribu paket perlengkapan sekolah untuk siswa kelas 10. Paket bantuan tersebut terdiri dari seragam putih abu-abu, hijab untuk siswi muslimah, tas sekolah, sepatu, topi, dasi, sabuk hingga kaos kaki.
Distribusi bantuan dilakukan secara bertahap hingga akhir Desember 2025 melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim bekerja sama dengan sekolah-sekolah di seluruh daerah.
Di lapangan, mayoritas siswa mengaku program tersebut sangat membantu, terutama bagi orang tua yang biasanya harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk membeli perlengkapan sekolah baru.
Siswi SMAN 16 Samarinda, Maliqa Nuur Shafa Sufiana, mengaku proses pendataan ukuran pakaian berlangsung mudah dan tidak menyulitkan siswa.
“Menurut saya pendataannya enggak terlalu ribet. Pas masuk sekolah langsung didata ukurannya sama pihak sekolah,” ujarnya.
Maliqa menerima paket perlengkapan sekolah lengkap mulai dari seragam, jilbab, tas hingga sepatu. Ia bahkan menilai kualitas bahan seragam bantuan pemerintah lebih nyaman dibanding seragam yang sebelumnya dimiliki.
“Bajunya lebih adem dipakai dibanding yang saya punya,” katanya.
Meski sempat menerima seragam dengan model lengan pendek yang tidak sesuai, masalah tersebut akhirnya bisa diselesaikan melalui mekanisme penukaran di sekolah.
“Awalnya dapat lengan pendek, terus ibu saya minta ditukarkan. Beberapa minggu kemudian diganti jadi lengan panjang,” ungkapnya.
Menurut Maliqa, desain tas bantuan masih bisa dibedakan dengan menambahkan aksesori atau tanda khusus. Namun untuk sepatu, ia mengaku cukup sulit membedakannya dengan milik siswa lain karena modelnya seragam.
“Kalau tas masih bisa dikasih tanda atau dekorasi supaya gampang dikenali. Tapi kalau sepatu susah dibedakan karena sama semua,” ujarnya sambil tertawa.
Hal serupa disampaikan siswa SMAN 16 Samarinda lainnya, Christian Naek Hamonangan Tambun. Ia mengaku sempat menerima ukuran sepatu yang terasa lebih besar meskipun nomor yang diberikan sudah sesuai dengan data awal.
“Ukuran saya 44 dan yang datang juga 44, tapi ternyata lebih besar dibanding sepatu saya sebelumnya,” katanya.
Karena tidak ingin repot melakukan pengembalian, Christian akhirnya memilih menukar sepatu dengan milik temannya yang mengalami masalah sebaliknya.
“Saya cari teman yang sepatunya kekecilan lalu ditukar. Jadi sama-sama cocok,” ujarnya.
Meski mengalami kendala kecil terkait ukuran, Christian tetap menilai bantuan tersebut sangat berguna bagi siswa. Hampir seluruh perlengkapan yang diberikan digunakan dalam aktivitas sekolah sehari-hari.
“Barang-barangnya sangat berguna. Baju dan celananya adem dipakai, tasnya ringan, sepatunya juga nyaman,” katanya.
Sementara itu, siswa lainnya, Rachmad Irfan Zaini, mengaku kualitas perlengkapan yang diterima berada di luar ekspektasinya.
“Kualitasnya bagus banget. Bahannya bagus, sepatunya juga enak dipakai,” ujarnya.
Meski sebelumnya telah membeli perlengkapan sekolah secara mandiri, Irfan tetap menggunakan tas dan sepatu dari program Gratispol dalam kegiatan sehari-hari.
Respons positif juga datang dari siswa SMAN 14 Samarinda, Satria Jibril Surya Susanto. Ia menyebut seluruh perlengkapan yang diterimanya sesuai ukuran dan nyaman digunakan.
“Seragamnya adem, sepatunya juga bagus. Ini yang saya pakai sekarang masih bagus,” katanya.
Menurut Satria, orang tuanya merasa sangat terbantu dengan adanya program tersebut karena biaya perlengkapan sekolah menjadi jauh lebih ringan.
“Orang tua senang karena saya dapat tas, sepatu, sama seragam gratis,” ujarnya.
Di sisi lain, Disdikbud Kaltim memastikan program Gratispol seragam gratis berjalan sesuai target dan tepat waktu.
Penelaah Teknis Kebijakan sekaligus PPTK Disdikbud Kaltim, Priangga, menjelaskan pemerintah sejak awal memang memprioritaskan kualitas produk karena perlengkapan tersebut digunakan langsung oleh siswa dalam aktivitas sehari-hari.
“Setahu kami sejak awal program berjalan hingga berakhir pada 31 Desember 2025 tidak ada persoalan. Alhamdulillah semua berjalan baik,” ujarnya.
Menurutnya, kualitas produk diuji langsung melalui laboratorium milik Kementerian Perdagangan, termasuk pengujian bahan konveksi di Bandung serta tas dan sepatu di Tanggulangin, Jawa Timur.
“Kami sangat mengutamakan kualitas produk karena harapan Pak Gubernur barang ini benar-benar terasa seperti hadiah bagi siswa,” katanya.
Pendataan ukuran dilakukan langsung oleh sekolah menggunakan size chart yang telah disosialisasikan sebelumnya. Data ukuran siswa kemudian diinput ke dalam sistem pendataan Disdikbud sebelum diproses oleh penyedia.
Meski demikian, Disdikbud mengakui masih ditemukan sejumlah kecil kasus barang tertukar maupun ukuran yang tidak sesuai. Namun jumlahnya disebut sangat minim dibanding total paket yang dibagikan.
“Dari sekitar 60 ribu paket, jumlah retur tidak sampai 100 dan semuanya sudah diselesaikan,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, Disdikbud juga menyiapkan layanan purna jual atau after sales selama tiga bulan. Sekolah diminta segera mendata jika ada kekurangan barang, ukuran tidak sesuai, maupun kerusakan produk agar dapat langsung diganti oleh penyedia.
“Kalau ada kekecilan, kancing lepas, atau isi kemasan tertukar, semua bisa diganti. Itu bagian dari layanan garansi,” ujarnya.
Priangga juga meluruskan soal angka Rp1 juta yang selama ini beredar di masyarakat. Menurutnya, nominal tersebut merupakan pagu anggaran, bukan harga final setiap paket bantuan.
“Rp1 juta itu pagu anggaran. HPS yang kami susun pasti di bawah pagu dan penyedia menawar lagi di bawah HPS. Jadi bukan berarti harga barang per paket tepat Rp1 juta,” jelasnya.
Ia menambahkan, produksi perlengkapan dilakukan di luar Kaltim karena belum adanya pabrik konveksi berskala besar di daerah yang mampu memproduksi puluhan ribu paket dalam waktu singkat.
“Di Kaltim belum ada pabrik dengan kapasitas sebesar itu. Waktu produksi juga hanya sekitar dua bulan, jadi memang membutuhkan perusahaan dengan mesin, SDM, dan tempat produksi yang besar,” pungkasnya.(*/san)















