LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 yang jatuh pada 23 Juli 2025, Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) menggelar kegiatan “Senam Pagi Ceria” secara serentak.
Kegiatan ini melibatkan ribuan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA, termasuk sekolah luar biasa (SLB).
Kegiatan utama dipusatkan di halaman Balai Kota Balikpapan dan diikuti sekitar 1.000 siswa secara langsung. Sementara itu, seluruh sekolah di Balikpapan juga mengadakan senam serupa secara serentak tepat pukul 08.00 WITA.
“Senam ini tidak hanya untuk menyemarakkan Hari Anak Nasional, tapi juga sebagai langkah awal membiasakan anak-anak hidup sehat dan aktif. Harapan kami, kegiatan seperti ini bisa rutin dilakukan minimal dua kali seminggu di sekolah,” ujar Kepala DP3AKB Balikpapan, Heria.
Menurut Heria, kegiatan ini menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi sehat dan tangguh menuju Indonesia Emas 2045. Ia menekankan pentingnya kebiasaan bergerak aktif sejak dini untuk meningkatkan kebugaran fisik dan kesehatan mental anak-anak.
Dalam momentum HAN ini, Forum Anak Kota Balikpapan juga mengambil peran. Heria menjelaskan, forum anak merupakan wadah representatif bagi anak-anak dari tiap kecamatan. Mereka direkrut melalui proses seleksi terbuka setiap dua tahun sekali, dan hanya anak-anak berusia di bawah 18 tahun yang memenuhi syarat.
“Mereka inilah yang menjadi pelopor dan pelapor suara anak. Karena anak lebih terbuka kepada sesama anak, forum ini sangat penting untuk menyalurkan aspirasi anak-anak ke dalam program pemerintah,” jelas Heria.
Anggota forum anak akan dilibatkan dalam perencanaan pembangunan, mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kota. “Ini membuktikan bahwa perencanaan kota juga mempertimbangkan suara dan kebutuhan anak-anak,” tambahnya.
Mengenai masih maraknya kasus kekerasan terhadap anak di Balikpapan, Heria menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan edukasi dan pendampingan. Salah satunya adalah kerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk sosialisasi anti-bullying kepada siswa baru.
“Tim kami sudah rutin masuk ke sekolah-sekolah. Kami menurunkan psikolog untuk memberikan materi dan pendampingan langsung. Tujuannya, agar anak-anak tahu cara menghadapi dan melaporkan jika mengalami kekerasan atau perundungan,” ungkap Heria.
DP3AKB juga telah mengembangkan sejumlah layanan pendukung, seperti keberadaan 8 Pusat Pembelajaran Keluarga (Pusaka) yang berfungsi sebagai tempat konsultasi dan pelaporan kasus anak. Selain itu, tersedia call center 24 jam dan aplikasi bernama TOPAN, yang memungkinkan masyarakat melaporkan kasus secara online dengan pelacakan lokasi langsung.
“Dengan layanan ini, kita bisa lebih cepat turun ke lokasi dan memberikan bantuan,” kata Heria.
Ia mengakui bahwa jumlah laporan kekerasan terhadap anak di Balikpapan memang meningkat dari tahun ke tahun, namun hal itu menunjukkan adanya keberanian masyarakat untuk melapor.
“Kalau dulu orang takut melapor, sekarang mereka mulai terbuka. Alhamdulillah, hampir semua laporan yang masuk bisa kami tangani bersama dengan Unit Renakta Polda Kaltim,” jelasnya.
Heria menutup dengan pesan bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama, dan peran keluarga, sekolah, serta masyarakat sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak.(*/san)















