LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Balikpapan masih menjadi persoalan serius. Meski layanan pendampingan sudah tersedia di seluruh puskesmas, jumlah kasus yang benar-benar dilaporkan masih jauh lebih sedikit dari kejadian yang sesungguhnya.
Hal ini disampaikan Yuli Minarti, Amd.Keb, selaku Penanggung Jawab Program KtP/A dan MTBM Puskesmas Gunung Bahagia. Ia menyebut bahwa kekerasan sering kali tidak terungkap karena korban takut melapor.
“Fenomenanya banyak terjadi, tetapi seperti fenomena gunung es. Yang terlihat hanya sedikit, padahal di bawah permukaan jumlahnya jauh lebih besar,” jelas Yuli, Senin (1/12/2025).
Menurutnya, sebagian besar korban enggan membuat laporan karena pelaku adalah orang terdekat, seperti suami, saudara, atau kerabat. Selain itu, banyak korban yang bergantung secara ekonomi pada pelaku sehingga khawatir kehilangan sumber nafkah jika laporan dibuat.
“Korban sering takut, karena kalau pelaku ditangkap, siapa yang akan menghidupi mereka? Ini menjadi salah satu hambatan terbesar,” ujar Yuli.
Puskesmas sendiri berfungsi sebagai unit layanan terdekat yang dapat menampung laporan awal sebelum diteruskan ke instansi terkait seperti Unit PPA, DP3AKB, Puspaga, hingga Bhabinkamtibmas.
Menurut Yuli, dalam beberapa tahun terakhir memang tidak banyak laporan masuk, namun bukan berarti kasus menurun. Pihaknya berharap masyarakat berani melapor jika mengetahui indikasi kekerasan.
“Kami bisa melindungi identitas pelapor, termasuk tetangga yang melihat indikasi kekerasan. Yang penting jangan diunggah ke media sosial, karena itu justru membahayakan korban,” tegasnya.(*/ADV/puskesmas Gunung Bahagia)















