SAMARINDA, lintasraya.com – Kerap kali masyarakat disuguhi berita terkait kejahatan dari seorang ibu. Dari melakukan kekerasan kepada anak, hingga pembunuhan. Tindakan tersebut disebabkan salah satunya, adanya gangguan psikis dari ibu tersebut. Gejala yang paling umum ialah baby blues syndrome.
Koordinator Tim Psikolog UPTD PPA Kota Samarinda Ayunda Rahmadani, baby blues ini ialah syndrome pasca melahirkan yang kerap sekali melanda kepada ibu-ibu yang melahirkan pertama kali. Prevalensi ibu yang mengalami baby blues ialah ibu berusia muda.
“Ini secara biologis. Banyak hormon-hormon yang keluar pasca melahirkan. ketika dia hamil, ada perubahan peningkatan hormon yang membuat emosi dia menjadi tidak karuan,”ungkap Ayunda.
Emosi yang kerap terjadi ialah ibu tersebut merasakan kesedihan yang mendalam, menilai dirinya tidak mampu merawat anak bayinya, hingga merasa tidak bisa menjadi seorang ibu.
“Ketika baby blues syndrome itu menyerang, si ibu kan merasa tidak berdaya. Sehingga dia meminta bantuan dari pihak eksternal,”lanjutnya.
Guna mencegah hal tersebut, Ayunda menekankan peran suami. Dimana, dukungan suami merupakan kunci dalam menghindarkan istrinya mengalami gejala baby blues syndrome.
“Istri mengharapkan bantuan dari suami. Karena suami itulah yang paling dekat. Itu menentukan apakah seorang ibu itu bisa bangkit atau pulih dari baby blues syndrome,”tegas Ayunda.
Suami bisa membantu istrinya dalam hal membantu pekerjaan rumah tangga, mencukupi gizi dan nutrisi ibu, dan memberikan waktu istrinya untuk beristirahat.(HLD)















