LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Upaya penurunan stunting di wilayah Puskesmas Gunung Bahagia terus diperkuat melalui kombinasi edukasi gizi, pemberian suplemen Taburia, serta pemberdayaan masyarakat melalui kebun gizi dan dapur gizi.
Program ini kini menjadi salah satu intervensi yang berjalan konsisten di wilayah rawan stunting.
Taburia merupakan suplemen gizi untuk anak usia 6–24 bulan yang diberikan dengan cara ditaburkan pada makanan yang telah didinginkan terlebih dahulu.
Edukasi cara penggunaan ini menjadi fokus utama kader dan petugas gizi saat melakukan pemantauan.
“Taburia ini diberikan selang-seling, misalnya hari ini ditabur, besok libur. Tidak boleh dicampur pada makanan panas karena kandungan vitaminnya bisa rusak. Untuk meminimalkan makanan terbuang, Taburia juga boleh ditabur pada suapan pertama,” kata, Lalu Harwindi Silviana, Amd.Gz, Nutrisionis Puskesmas Gunung Bahagia.
Ia menjelaskan, Suplemen ini diberikan secara gratis oleh pemerintah, satu kotak berisi 15 saset untuk satu bulan pemakaian. Program Taburia sendiri sebenarnya sudah ada sejak awal tahun 2000-an, namun bentuk dan mekanismenya terus diperbarui sesuai standar nasional.
Ia menegaskan bahwa penguatan gizi tidak hanya bisa mengandalkan pemberian suplemen, tetapi harus dibarengi perubahan budaya makan di rumah.
“Taburia dan dapur gizi membantu memenuhi kekurangan zat besi dan mikronutrien anak, tetapi perubahan perilaku orang tua tetap menjadi faktor terbesar. Keluarga harus mulai membiasakan makanan yang bervariasi dan mengurangi makanan instan,”tandasnya. (*/ADV/puskesmas Gunung Bahagia)















