LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Penurunan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Sepinggan dalam tiga bulan terakhir tak lepas dari peran kuat kader jumantik yang tersebar di tiap RT.
Penanggung jawab program DBD, Yuli Rachmawaty, menegaskan bahwa jumantik adalah ujung tombak pencegahan DBD di tingkat keluarga dan lingkungan.
“Setiap RT itu punya kader jumantik. Mereka yang turun langsung ke rumah-rumah, memantau jentik, sekaligus membagikan abate dari puskesmas,” jelas Yuli, sabtu (22/11/2025).
Meski hanya mendapat uang operasional Rp250 ribu per bulan, kader jumantik tetap menjalankan pemantauan secara rutin. Minimal sekali dalam sebulan, namun banyak RT yang bergerak setiap dua minggu sekali tergantung inisiatif kader di wilayahnya.
Jumantik tidak hanya memeriksa bak mandi atau wadah air, tetapi juga mengingatkan warga membersihkan lingkungan, termasuk kebiasaan kecil seperti tidak menggantung pakaian yang berpotensi menjadi tempat hinggap nyamuk.
“Mereka yang paling dekat dengan warga, jadi edukasi lebih efektif. Kadang satu rumah sadar, tapi kalau tetangganya tidak, risiko tetap ada,” kata Yuli.
Ia menekankan bahwa jarak terbang nyamuk Aedes aegypti mencapai 100–200 meter, membuat kebersihan lingkungan sekitar menjadi faktor penentu keberhasilan jumantik.
Menurut Yuli, idealnya setiap rumah memiliki jumantik keluarga agar pengawasan lebih merata dan tidak hanya bergantung pada kader RT.
“Kalau bisa, 1 rumah ada 1 jumantik keluarga. Itu harapan kita supaya pencegahan lebih mandiri,” ujarnya.
Selain pembagian abate, jumantik juga terlibat dalam sosialisasi penggunaan kelambu air di RT-RT dengan kasus tertinggi. Program ini menjadi pelengkap strategi pengendalian DBD sejak 2023.
Hasilnya mulai terlihat. Dalam tiga bulan terakhir, kasus DBD di Sepinggan mengalami penurunan signifikan, dengan November hanya mencatat tiga kasus.
“Jumantik ini pilar utama. Kalau mereka aktif dan warga mau ikut, kasus bisa terus turun,” pungkas Yuli.(*/ADV/puskesmas Sepinggan)















