LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Nelly Turuallo, menegaskan bahwa Kota Balikpapan saat ini tengah menghadapi persoalan serius terkait kekurangan tenaga guru, khususnya pada jenjang SD dan SMP.
Hal tersebut disampaikannya saat menerima kunjungan mahasiswa Universitas Balikpapan (Uniba) dalam agenda diskusi pendidikan, Senin (6/4/2026). Ia menyebut, kondisi kekurangan guru bukan lagi hal baru dan sudah menjadi perhatian bersama.
“Ini bukan rahasia lagi, Balikpapan saat ini kekurangan guru. Terutama di tingkat SD dan SMP,” ujar Nelly.
Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah banyaknya guru senior yang memasuki masa pensiun, sementara jumlah peserta didik terus bertambah setiap tahun.
“Banyak guru kita yang sudah senior dan pensiun. Sementara murid tidak pensiun, setiap tahun terus ada. Ini yang membuat rasio guru dan murid jadi tidak seimbang,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, kebutuhan guru di Balikpapan diperkirakan mencapai sekitar 700 orang. Namun, kekurangan tersebut terjadi secara bertahap seiring dengan gelombang pensiun yang tidak terjadi sekaligus.
“Yang pensiun itu tidak serentak, tapi bertahap dalam satu periode. Jadi tetap harus diantisipasi sejak awal,” katanya.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah pusat yang membatasi penambahan pegawai menjadi tantangan tersendiri bagi daerah dalam memenuhi kebutuhan tenaga pengajar.
Meski begitu, Pemerintah Kota Balikpapan disebut telah melakukan sejumlah langkah, salah satunya melalui skema perekrutan tenaga kontrak yang mengacu pada sistem di DKI Jakarta.
“Sudah ada upaya dari pemerintah, dengan sistem kontrak kerja seperti di DKI. Itu menjadi salah satu solusi sementara,” ujarnya.
Dari proses tersebut, sekitar 400 tenaga guru telah direkrut untuk mengisi kekurangan yang ada. Namun jumlah itu masih belum mencukupi kebutuhan secara keseluruhan.
“Kalau kebutuhan sekitar 700, yang sudah terisi sekitar 400. Jadi memang masih kurang, tapi ini dilakukan bertahap,” ungkap Nelly.
Ia juga menjelaskan bahwa sebagian besar tenaga yang direkrut merupakan guru honorer yang sudah lama mengajar di Balikpapan, meskipun secara administrasi berasal dari luar daerah.
“Rata-rata yang diterima itu sudah lama mengabdi sebagai guru honorer di Balikpapan, hanya saja belum terakomodasi sebelumnya,” jelasnya.
Untuk mengatasi kekurangan di lapangan, sekolah juga menerapkan sistem penyesuaian jam mengajar antar sekolah.
“Misalnya ada guru yang jam mengajarnya belum terpenuhi di satu sekolah, bisa mengajar di sekolah lain yang kekurangan. Jadi ada sistem substitusi,” terangnya.
Nelly menekankan, pemenuhan kebutuhan guru tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena berkaitan langsung dengan kualitas pendidikan.
“Kita tidak bisa asal isi. Tujuan kita adalah menghasilkan SDM yang berkualitas, jadi tetap harus memperhatikan kompetensi,” tegasnya.
Ia pun mengapresiasi kehadiran mahasiswa dalam diskusi tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap isu pendidikan.
“Kami sangat menghargai mahasiswa yang datang berdiskusi. Ini ruang sharing agar persoalan bisa dipahami bersama,” pungkasnya.(*/san)















