LINTASRAYA.COM, SAMARINDA – Masa pensiun bagi sebagian orang mungkin menjadi waktu untuk berhenti sejenak setelah puluhan tahun bekerja. Namun, bagi Haryanto Syafri, memasuki masa purna tugas bukan berarti berhenti melakukan sesuatu.
Justru sebaliknya. Ketika waktunya semakin dekat, Kepala Perwakilan SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi itu mulai memikirkan bagaimana pengalaman yang dikumpulkannya selama puluhan tahun di industri hulu migas dapat terus bermanfaat.
Ia tidak punya rencana untuk menghabiskan masa pensiun hanya di rumah.
Haryanto ingin tetap bertemu dengan orang-orang, berdiskusi dan berbagi pengetahuan, terutama dengan generasi yang masih panjang perjalanan kariernya.
“Saya berusaha untuk mengedukasi saja. Terlalu banyak adik-adik dan kawan-kawan yang perlu kita ajak diskusi dalam ruang kecil seperti ini, bukan dalam ruang yang besar,” ujarnya, Selasa 9 September 2026.
Baginya, ruang kecil justru memberikan kesempatan untuk berbicara lebih dekat. Pengalaman yang selama ini dimilikinya dapat dibagikan melalui percakapan sederhana.
Keinginan tersebut bukan tanpa alasan.
Haryanto telah melewati perjalanan panjang di industri hulu migas sejak era 1990-an. Ia pernah bekerja di lapangan operasi sebelum kemudian bergabung dengan BP Migas pada 2008.
Sejak 2010, ia memilih bertugas di kantor perwakilan. Sejumlah wilayah pernah menjadi bagian dari perjalanan kariernya, mulai dari Sumatera bagian utara, Sumatera bagian selatan, Papua dan Maluku, hingga Kalimantan dan Sulawesi.
Penugasan di berbagai daerah membuatnya tidak hanya mengenal persoalan teknis industri migas. Ia juga belajar berkomunikasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, pemangku kepentingan dan media.
“Saya harus belajar komunikasi. Selama ini saya cuma belajar engineering, operation, saya harus belajar komunikasi,” katanya.
Kemampuan itu tidak datang begitu saja.
Haryanto merupakan putra Pekanbaru, Riau, yang lahir pada 10 Januari 1972. Ia tumbuh di daerah yang kehidupan masyarakatnya tidak jauh dari industri minyak dan gas.
Sejak kecil, ia sudah melihat kendaraan perusahaan migas berlalu-lalang di sekitar tempat tinggalnya. Ada rasa kagum yang kemudian tumbuh menjadi keinginan untuk bekerja di industri tersebut.
“Saya sangat termotivasi lihat, wah ini kayaknya gagah ini, harus keren, harus kayak begitu,” kenangnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan sebagai sarjana teknik perminyakan di Institut Teknologi Bandung, Haryanto sempat berharap dapat bekerja di perusahaan migas yang ada di daerah asalnya.
Harapan itu kandas. Ia tidak diterima bekerja di Caltex, perusahaan yang saat itu menjadi salah satu perusahaan migas besar di Riau. Penolakan tersebut sempat membuatnya merasa tidak cukup pintar.
“Waktu itu saya merasa, wah ini cobaan besar. Saya tidak cukup pintar untuk bekerja di sini,” ujarnya.
Namun, kekecewaan itu ternyata membuka jalan lain. Tidak lama kemudian, ia mendapat kesempatan bekerja di ConocoPhillips. Dari sana, Haryanto mulai mengenal lebih jauh dunia operasi migas.
Ia berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Mulai dari pengeboran, produksi hingga perawatan menjadi bagian dari pengalaman yang dikumpulkannya.
Sekitar sepuluh tahun berada di lingkungan operasi membuat pemahamannya terhadap industri migas semakin luas.
Setelah bergabung dengan BP Migas, ia kemudian melihat dunia yang lebih besar. Keputusan untuk masuk ke kantor perwakilan membuatnya kembali belajar hal-hal yang sebelumnya tidak banyak disentuhnya.
Perjalanan itu akhirnya membawanya ke berbagai wilayah Indonesia. Kini, penugasan di Kalimantan dan Sulawesi menjadi bagian terakhir sebelum dirinya memasuki masa purna tugas.
Haryanto menyebut masa ini sebagai waktu untuk mulai mempersiapkan diri. “Saya sudah mendekati injury time,” katanya.
Tetapi ia tidak melihat pengalaman selama puluhan tahun sebagai sesuatu yang cukup disimpan sendiri.
Ia pernah menyusun buku panduan internal mengenai pekerjaan kantor perwakilan. Buku itu dibuat agar pengetahuan dan prosedur kerja yang telah dijalankan dapat diteruskan kepada orang lain.
Meski demikian, setelah pensiun nanti ia tidak berencana menulis buku lagi. Yang ingin dilakukannya lebih sederhana, berbagi.
Menurut Haryanto, pengalaman tidak selalu bisa diperoleh hanya dari membaca atau belajar di ruang kelas. Ada pengetahuan yang lahir dari perjalanan panjang dan berbagai persoalan yang pernah dihadapi.
“Jam terbang dan pengalaman itu tidak tergantikan oleh apa-apa,” katanya.
Salah satu hal yang terus ia pegang selama menjalankan pekerjaan adalah keberanian menyampaikan sesuatu yang benar.
Prinsip itu, diakuinya, terkadang tidak membuat perjalanan menjadi mudah. Ada situasi ketika mengatakan kebenaran justru dapat menjadi hambatan. Namun, Haryanto memilih tetap menjalaninya.
“Kalau saya tidak menyampaikan kebenaran, saya akan merasa bersalah,” ujarnya.
Prinsip itu pula yang ingin dibawanya ketika nanti tidak lagi mengenakan atribut sebagai pejabat di kantor perwakilan.
Bagi Haryanto, pengabdian tidak harus berakhir bersamaan dengan datangnya masa pensiun. Selama masih memiliki kesempatan untuk bertemu dan berbicara, masih ada pengetahuan yang bisa dibagikan.
Ia percaya pekerjaan di sektor hulu migas hari ini pun merupakan hasil dari proses panjang yang dilakukan orang-orang sebelum generasinya.
Karena itu, kegiatan eksplorasi yang dilakukan sekarang menurutnya bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hari ini.
“Kalau sekarang ada pekerjaan seismik, hasilnya bukan untuk kita. Hasilnya untuk anak cucu kita 20 tahun kemudian,” katanya.
Mungkin itulah cara Haryanto melihat masa pensiun. Bukan sebagai garis akhir, melainkan perubahan cara untuk tetap memberi manfaat.
Setelah bertahun-tahun bekerja di lapangan dan kantor perwakilan, ia ingin memasuki babak berikutnya dengan membawa sesuatu yang menurutnya jauh lebih berharga daripada jabatan, pengalaman yang bisa diwariskan kepada orang lain. (*/jan)















