LINTASRAYA.COM BALIKPAPAN – Revolusi digital, disrupsi teknologi, dan dinamika geopolitik global membuat birokrasi Indonesia memasuki babak baru yang penuh tantangan. Di tengah perubahan besar ini, aparatur sipil negara (ASN) tidak lagi cukup hanya pandai mengurus administrasi. Mereka dituntut menjadi pemimpin perubahan yang visioner, adaptif, dan berkarakter.
Hal tersebut diungkapkan Jerry Rahimullah Syahid, Peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan III Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Kajian Sistem Kepemimpinan Pemerintahan (Pusjar SKPP) LAN RI Samarinda, saat memaparkan refleksinya tentang “Kepemimpinan ASN Berjiwa Pancasila di Era Perubahan”.
Menurut Jerry, moralitas kepemimpinan ASN harus kembali pada fondasi utama bangsa.
“Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi kompas moral yang mengarahkan setiap kebijakan dan perilaku aparatur agar selalu berpihak pada rakyat. Di tengah tuntutan efisiensi dan digitalisasi, Pancasila memastikan kemajuan tidak melupakan kemanusiaan, keadilan, dan persatuan,” ujarnya, Rabu (24/9/2025).
Jerry menjelaskan, pelatihan kepemimpinan yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara (LAN) sangat penting dalam menyiapkan pemimpin ASN yang tidak hanya cakap teknis tetapi juga matang secara moral. Dalam pelatihan itu, nilai-nilai integritas, akuntabilitas, keberanian, dan orientasi pelayanan publik ditanamkan agar birokrasi mampu bertransformasi menjadi lebih dinamis, solutif, dan adaptif.
“Manfaat pelatihan ini terasa di tiga dimensi. Pada individu, ASN dibentuk menjadi pribadi yang resilien dan visioner. Pada organisasi, pelatihan menumbuhkan budaya kerja kolaboratif dan inovatif. Sementara pada masyarakat, dampaknya berupa pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan responsif—yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan terhadap pemerintah,” kata Jerry.
Namun, Jerry mengingatkan tantangan terbesar justru muncul setelah pelatihan selesai.
“ASN sering kali kembali ke budaya lama karena kurangnya dukungan institusi atau lemahnya sistem evaluasi. Akibatnya, pelatihan bisa kehilangan makna. Maka pelatihan kepemimpinan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar formalitas,” jelasnya.
Ia menegaskan, Indonesia sedang menuju visi Indonesia Emas 2045 yang memerlukan lebih banyak pemimpin ASN sejati. “Bukan sekadar menduduki jabatan, tetapi benar-benar memimpin. Pemimpin yang berjiwa Pancasila, berorientasi pada kepentingan rakyat, dan sanggup menjaga Indonesia tetap kokoh sebagai rumah bersama,” ucapnya.
Jerry juga menekankan bahwa kepemimpinan ASN berjiwa Pancasila adalah jawaban atas tantangan zaman. Model kepemimpinan ini memastikan birokrasi tidak hanya efisien secara sistem, tetapi juga beradab secara moral.
“Inilah inti kepemimpinan sejati: menghadirkan manfaat, bukan sekadar memegang kekuasaan,” pungkasnya.
Dengan pendekatan seperti ini, Jerry optimistis birokrasi Indonesia akan semakin tangguh menghadapi era disrupsi sekaligus tetap setia pada nilai-nilai luhur bangsa.(*/Jer)















