LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN – Upaya menekan kasus stunting di Kelurahan Baru Ulu, Kecamatan Balikpapan Barat, terus diperkuat. Pemerintah kelurahan tidak hanya mengandalkan kegiatan posyandu, tetapi melibatkan kader, PKK hingga ketua RT untuk memastikan kondisi ibu dan anak terus terpantau di lingkungan tempat tinggal.
Pemantauan dilakukan terutama terhadap ibu hamil, ibu menyusui serta anak-anak yang membutuhkan perhatian dalam tumbuh kembangnya. Langkah tersebut dinilai penting agar kondisi yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan anak dapat diketahui lebih dini dan segera ditindaklanjuti.
Lurah Baru Ulu, Abas, S.Pd., mengatakan pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Menurutnya, pemantauan tidak cukup hanya dilakukan ketika masyarakat datang ke posyandu, tetapi juga perlu dilanjutkan melalui pendampingan di lingkungan masing-masing.
“Kita terus lakukan pemantauan bersama kader. Ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak tetap menjadi perhatian, sehingga kalau ada kondisi yang perlu ditindaklanjuti bisa segera diketahui,” kata Abas, Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan, kader posyandu memiliki peran penting dalam melihat perkembangan anak melalui kegiatan penimbangan dan pemeriksaan rutin. Data serta kondisi yang ditemukan dalam kegiatan tersebut menjadi bahan pemantauan untuk mengetahui apakah terdapat anak yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Selain kader posyandu, kader PKK turut mengambil peran melalui kegiatan dan kunjungan ke lingkungan RT. Edukasi diberikan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak, pemenuhan kebutuhan selama masa kehamilan hingga memperhatikan tumbuh kembang anak sejak usia dini.
Keterlibatan ketua RT juga dinilai penting karena berada paling dekat dengan masyarakat. Komunikasi antara kelurahan, kader dan RT diharapkan membuat informasi mengenai kondisi keluarga, khususnya yang memiliki ibu hamil maupun anak, dapat lebih cepat diketahui.
“Jadi bukan hanya posyandu. Kita juga melibatkan kader dan RT karena mereka yang mengetahui kondisi warga di lingkungannya,” ujarnya.
Terkait jumlah kasus stunting di Baru Ulu, Abas belum menyampaikan angka persentase secara pasti. Ia mengatakan data masih dapat berubah seiring proses pendataan dan pemantauan yang dilakukan secara berkala.
“Kalau untuk persentasenya saya tidak bisa memastikan karena datanya bisa berubah. Ada beberapa, tetapi jumlahnya tidak banyak,” jelasnya.
Abas berharap pola pemantauan secara bersama-sama tersebut dapat terus berjalan. Menurutnya, pencegahan stunting harus dilakukan sejak masa kehamilan dan berlanjut hingga anak memasuki masa pertumbuhan.
Karena itu, keluarga tidak dapat berjalan sendiri. Dukungan kader posyandu, PKK, ketua RT dan pemerintah kelurahan dibutuhkan untuk memastikan kondisi ibu dan anak dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan maupun pendampingan bisa diberikan sesuai kebutuhan.
Dengan pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan hingga tingkat lingkungan, Kelurahan Baru Ulu berupaya memastikan persoalan tumbuh kembang anak tidak terlambat diketahui dan dapat dicegah sedini mungkin.(*/ron)















