LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Sepinggan menunjukkan tren penurunan dalam tiga bulan terakhir.
Padahal, tiga kelurahan yang menjadi wilayah layanan Sepinggan, Sepinggan Baru, dan Sepinggan Raya dikenal sebagai kawasan endemis DBD setiap tahunnya.
Penanggung jawab program DBD Puskesmas Sepinggan, Yuli Rachmawaty, mengatakan bahwa secara kumulatif Januari–November 2025 tercatat hampir 80 kasus DBD.
“Dari tiga kelurahan, yang paling tinggi itu biasanya Sepinggan dan Sepinggan Baru. Karena Balikpapan memang endemis DBD, tiap tahun pasti ada kasus,” jelasnya.
Namun dalam tiga bulan terakhir, tren kasus mulai menurun. “Alhamdulillah, untuk periode tiga bulan terakhir ini sudah turun. Khusus November, kita hanya temukan tiga kasus,” tambahnya, Sabtu (22/11/2025).
Yuli menjelaskan, kasus terbanyak masih terjadi pada anak usia sekolah. Penyebabnya berkaitan dengan pola aktivitas harian murid.
“Nyamuk DBD itu aktifnya dari jam 09.00 sampai 17.00. Anak sekolah kan berada di lingkungan sekolah sejak pagi sampai sore. Kalau sekolahnya kurang melakukan PSN, mereka menjadi kelompok paling rentan,” terangnya.
Walau begitu, tahun ini tidak ada kasus meninggal dunia akibat DBD di wilayah Sepinggan. “Yang paling parah biasanya hanya sampai dirawat di rumah sakit, lalu sembuh,” ujarnya.
Upaya pencegahan terus dilakukan melalui kader jumantik yang tersebar di tiap RT. Para kader diberi tugas memantau jentik dan membagikan abate ke rumah-rumah warga.
“Kita ada kader jumantik di tiap RT. Dari puskesmas menyediakan abate, lalu kader yang bagikan. Mereka dapat uang operasional Rp250 ribu per bulan, meski sebenarnya itu masih kurang,” kata Yuli.
Kader jumantik bergerak minimal sekali tiap bulan, namun beberapa RT menjalankan kegiatan dua kali dalam sebulan, tergantung kesiapan kader.
Selain abate, Puskesmas Sepinggan juga masih menjalankan program kelambu air, khusus untuk RT yang memiliki kasus tertinggi. Program ini sudah berjalan sejak 2023.
“Kelambu air itu hanya untuk wilayah tertentu karena anggarannya besar. Tahun depan mungkin diusulkan lagi,” jelas Yuli.
Menariknya, beberapa kader di RT 23 Sepinggan Baru bahkan telah mendapat pelatihan membuat kelambu air secara mandiri dengan pendampingan guru dari SMA 5 Balikpapan. Namun produksi ini masih dalam tahap pemberdayaan, belum menjadi usaha UMKM.
Yuli menegaskan bahwa keberhasilan menekan DBD tetap bertumpu pada Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) mandiri di masing-masing rumah.
“Harapannya sebenarnya ada satu kader jumantik di setiap rumah. Karena kalau hanya satu rumah bersih tapi tetangganya tidak, tetap bisa tertular. Jarak terbang nyamuk itu 100–200 meter,” tegasnya.
Kebiasaan sederhana seperti membersihkan penampungan air, menutup wadah, menguras bak mandi, dan tidak menggantung baju dapat sangat membantu mengurangi risiko.
“Kalau semua warga aware, Insyaallah kasus bisa lebih ditekan,” tutup Yuli.(*/ADV/puskesmas Sepinggan)















