LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Penanganan stunting tidak cukup hanya dengan memberikan makanan bergizi kepada anak. Kondisi sanitasi dan kesehatan lingkungan juga perlu mendapat perhatian karena berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil, bayi, dan balita.
Hal itu menjadi perhatian Lurah Baru Ilir, Junaidi, S.IP., dalam upaya menekan risiko stunting di wilayahnya. Menurutnya, pemenuhan gizi harus berjalan beriringan dengan perbaikan kesehatan lingkungan dan perubahan perilaku hidup masyarakat.
Junaidi mengatakan, kasus stunting di Baru Ilir sejauh ini masih tergolong rendah. Berdasarkan data terakhir yang diingatnya, terdapat sejumlah anak yang terindikasi stunting. Namun, angka pastinya masih perlu dikonfirmasi kembali.
Anak-anak yang menjadi sasaran penanganan telah mendapatkan intervensi dari dinas terkait, salah satunya melalui bantuan pangan berupa daging, telur, dan bahan makanan lainnya selama tiga bulan. Penyaluran bantuan dilakukan melalui kader di tingkat kelurahan.
Meski demikian, ia menilai intervensi pangan bukan satu-satunya aspek yang harus diperhatikan. Kesehatan lingkungan turut menentukan upaya menjaga kesehatan keluarga, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak.
“Kadang kita fokus pada intervensi makanan, tetapi lupa bahwa kesehatan lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan, terutama ibu hamil dan anak-anak,” ujarnya, Senin (12/10/2026).
Ia menyoroti kondisi sanitasi di lingkungan permukiman yang masih perlu mendapat perhatian. Sebab, lingkungan yang kurang sehat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan menjadi tantangan dalam upaya pencegahan stunting.
Untuk mendukung penanganan stunting, Kelurahan Baru Ilir terus berkoordinasi dengan puskesmas, posyandu, serta kader kesehatan di tingkat RT.
Upaya yang dilakukan meliputi pemberian makanan tambahan, penimbangan balita, hingga pemeriksaan kesehatan ibu hamil. Pemantauan tersebut menjadi bagian penting untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu dan anak sekaligus mendukung intervensi sesuai kebutuhan.
Sekitar dua pekan sebelum wawancara, kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) juga dilaksanakan di wilayah Baru Ilir dengan melibatkan puskesmas.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting.
Namun, menurut Junaidi, tantangan yang masih dihadapi bukan hanya memastikan program kesehatan berjalan, melainkan juga membangun kebiasaan masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungan.
Mengubah pola hidup yang telah berlangsung lama membutuhkan pendekatan berkelanjutan. Karena itu, keterlibatan keluarga dan masyarakat dinilai penting agar upaya pencegahan tidak berhenti pada kegiatan pemeriksaan atau pemberian bantuan semata.
Junaidi berharap masyarakat semakin memahami bahwa pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan. Kecukupan gizi ibu, pemantauan kesehatan secara rutin, serta lingkungan tempat tinggal yang bersih dan sehat perlu menjadi perhatian bersama.
Ia juga mengajak keluarga yang memiliki bayi dan balita untuk rutin memanfaatkan layanan posyandu agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dipantau.
“Kami berharap masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan, baik kesehatan lingkungan maupun makanan yang dikonsumsi. Terutama ibu hamil, kebutuhan gizinya harus benar-benar diperhatikan,” tutupnya.(*/ron)














