LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Kasus tuberkulosis (TB) yang menjalani pengobatan di Puskesmas Sepinggan menunjukkan tren penurunan pada tahun 2024. Hingga bulan berjalan, tercatat 93 pasien tengah menjalani terapi TB, menurun dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 114 pasien.
“Dibandingkan tahun lalu, pasien TB yang berobat di Sepinggan lebih sedikit. Suspect yang kita temukan juga lebih banyak di tahun kemarin,” jelas Intan Eka Matahari, PJ Penyakit Menular Puskesmas Sepinggan.
Kasus TB di wilayah Sepinggan ditemukan pada berbagai kelompok usia, mulai dari balita 1 tahun hingga lansia 73 tahun. Menurut Intan, penyebab penularan pada anak umumnya berasal dari lingkungan terdekat.
“Kalau balita positif, biasanya kita telusuri dari keluarga. Dicek orang tua, nenek, kakeknya, atau siapa pun yang tinggal serumah. Kadang ada yang jelas sumber penularannya, tapi ada juga yang keluarganya aman, malah kemungkinan tertular saat dibawa berobat ke rumah sakit,” terangnya.
Intan menjelaskan bahwa metode diagnosis TB pada anak dan dewasa dilakukan dengan pendekatan berbeda.
• Anak-anak: dilakukan scoring TB, pemeriksaan berat badan, gejala batuk lama, serta uji serologis seperti tes Mantoux.
• Dewasa: dilakukan pemeriksaan dahak menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM). Jika hasil reaktif, pasien langsung mendapatkan terapi. Bila non-reaktif namun batuk tak kunjung sembuh, pasien akan dirujuk untuk foto rontgen.
Pengobatan TB membutuhkan komitmen dan waktu panjang.
“Paling cepat 6 bulan untuk semua usia. Kalau TB dengan komorbid seperti diabetes atau HIV bisa sampai 9 bulan. TB ekstra paru, seperti di kelenjar, usus, meningitis, atau tulang bisa sampai satu tahun,” ujar Intan.
Puskesmas Sepinggan secara rutin melakukan penyuluhan di berbagai wadah masyarakat, mulai dari posyandu, RT/RW, hingga kelompok dasawisma.
“TB masih dianggap penyakit yang memalukan. Padahal yang harus dihargai justru mereka yang mau berobat karena mereka sudah mencegah penularan ke orang lain,” tutur Intan.
Penyuluhan dilakukan tanpa menyebut identitas warga yang sakit guna menjaga kenyamanan dan mengurangi stigma sosial.
Intan kembali menegaskan pentingnya masyarakat melakukan pemeriksaan bila mengalami batuk berkepanjangan.
“Kalau batuk lebih dari 10 hari atau 2 minggu, periksakan dahak ke puskesmas. Gratis, dan alat yang kami gunakan sama seperti di rumah sakit. Jangan takut, meski sering ada yang menghindar karena tidak mau diperiksa dahaknya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa hasil positif sekalipun bukan akhir dari segalanya.
“Kalau positif, kita obati. Kalau negatif, alhamdulillah. Yang penting periksa dulu. Jangan takut, semua layanan TB di puskesmas gratis,” pungkasnya.(*/ADV/puskesmas Sepinggan)















