LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN — Puskesmas Sepinggan Terus Perkuat Layanan Kesehatan Jiwa, Kasus Gangguan Mental Emosional Meningkat Pada Remaja
Puskesmas Sepinggan terus mengintensifkan layanan kesehatan jiwa bagi masyarakat menyusul meningkatnya kasus gangguan mental emosional, khususnya pada kelompok usia produktif dan remaja. Hal ini disampaikan oleh Wahyuni, selaku Penanggung Jawab Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Sepinggan.
Menurut Wahyuni, jenis gangguan jiwa yang ditangani puskesmas cukup beragam, mulai dari ansietas, depresi, hingga skizofrenia. Tren ansietas disebut terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Kasus ansietas memang naik setiap tahun. Begitu datang ke kami, langsung kami layani. Kami juga sudah melakukan upaya skrining, baik oleh kader di lapangan maupun laporan warga bila ada yang dicurigai mengalami gangguan. Tim kami siap turun untuk melakukan penilaian,” jelasnya, Sabtu (22/11/2025).
Dari seluruh kasus yang ditangani, skizofrenia menjadi salah satu yang paling menonjol. Hingga November ini, tercatat lebih dari 60 kasus skizofrenia telah ditangani Puskesmas Sepinggan.
“Ciri-cirinya biasanya halusinasi melihat atau mendengar sesuatu yang tidak ada. Itu yang banyak kami tangani sekarang,” ujar Wahyuni.
Sebagian besar penderita berada pada usia produktif 15–59 tahun, termasuk remaja usia sekolah. Meski telah menangani 60 lebih kasus, capaian ini masih di bawah target Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang dibebankan dinas, yakni 88 kasus per tahun.
“Targetnya tinggi. Dinas kesehatan menaikkan target setiap tahun. Jadi meskipun yang kami tangani banyak, persentasenya terlihat rendah,” tambahnya.
Wahyuni mengungkapkan bahwa penyebab gangguan mental sangat bervariasi. Pada usia dewasa, faktor ekonomi dan tekanan hidup menjadi pemicu dominan. Sementara pada remaja, masalah keluarga dan perundungan di sekolah menjadi faktor yang sering ditemukan.
Puskesmas secara rutin melakukan skrining ke sekolah-sekolah, dan hasilnya menunjukkan cukup banyak remaja yang mengalami gangguan mental emosional, meski belum sampai kategori berat.
“Ada yang datang karena broken home, orang tua sering bertengkar, atau dibully di sekolah. Ada juga yang diledek karena penampilan atau cara berjalan. Ini memengaruhi kondisi mental mereka,” jelas Wahyuni.
Untuk penanganan, Puskesmas Sepinggan mengutamakan pendekatan konseling dan edukasi kepada pasien serta keluarga. Jika kondisi tidak terkontrol, barulah diberikan terapi obat.
“Kalau ada yang sampai mengamuk, kami berikan obat suntik agar lebih cepat terkontrol. Dalam waktu 30 menit biasanya kondisinya membaik. Bila tetap tidak bisa ditangani di puskesmas, kami rujuk ke rumah sakit dengan bantuan Dinsos dan Satpol PP,” ujar Wahyuni.
Ia menekankan bahwa dukungan lingkungan sangat penting, terutama bagi remaja yang masih berada pada tahap gangguan mental emosional.
Wahyuni memastikan bahwa skrining kesehatan jiwa, baik dalam maupun luar gedung, terus berjalan. Kader turut dilibatkan untuk mengenali dan melaporkan bila ada warga yang menunjukkan gejala awal gangguan jiwa.
“Tujuannya supaya kasus ansietas tidak berkembang menjadi depresi atau skizofrenia. Dengan skrining sejak dini, kita bisa cegah kondisi yang lebih berat,” tutupnya.(*/ADV/puskesmas Sepinggan)















