LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN – Dugaan pemukulan terhadap seorang guru di Balikpapan yang terjadi setelah guru tersebut menegur siswa yang diduga merokok menuai perhatian DPRD Kota Balikpapan. Wakil Ketua DPRD Balikpapan, Yono Suherman, menilai peristiwa itu menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter melalui kerja sama antara keluarga dan sekolah.
Menurut Yono, pembentukan moral dan etika anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pihak sekolah. Peran orang tua dinilai sangat menentukan dalam menanamkan sikap hormat kepada guru sebagai pendidik.
Ia menuturkan, perubahan pola hubungan antara orang tua, anak, dan sekolah menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan saat ini. Kondisi tersebut, kata dia, berbeda dengan masa lalu ketika teguran dari guru dijadikan sebagai pembelajaran untuk memperbaiki diri.
“Kalau dulu, ketika kita ditegur guru, itu menjadi cambuk untuk memperbaiki diri. Namun sekarang kondisinya sudah berbeda. Ada anak yang ketika ditegur justru mengadu kepada orang tua, kemudian orang tua ikut membela tanpa melihat duduk persoalannya. Hal seperti ini dapat menjadi contoh yang kurang baik,” ujar Yono, Senin (27/7/2026).
Yono mengajak para orang tua untuk memberikan dukungan terhadap proses pendidikan di sekolah. Menurutnya, setiap guru menjalankan tugasnya bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membimbing dan membentuk karakter peserta didik agar menjadi pribadi yang lebih baik.
“Saya mengimbau kepada para orang tua agar memahami bahwa guru ingin anak-anak didiknya menjadi pribadi yang lebih baik. Karena itu, komunikasi dan saling pengertian antara orang tua dan sekolah harus terus dibangun,” katanya.
Selain itu, Yono juga mengingatkan para guru agar menerapkan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman dalam mendisiplinkan siswa. Ia menilai pembinaan tetap penting dilakukan, namun harus mengedepankan cara yang edukatif, komunikatif, dan tidak menimbulkan dampak psikologis bagi anak.
“Guru juga perlu menegur dengan cara yang tepat. Jangan sampai bahasa atau tindakan yang digunakan justru memberikan dampak psikologis kepada anak,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyelesaian persoalan yang melibatkan peserta didik, guru, dan orang tua memerlukan keterlibatan semua pihak. Di satu sisi, pendidikan karakter harus terus diperkuat, sementara di sisi lain hak-hak anak dalam proses pembelajaran juga harus tetap dihormati.
“Harus ada keseimbangan. Moral anak perlu diperkuat, tetapi hak asasi manusia juga harus diperhatikan. Dengan begitu, kita dapat menjaga kualitas pendidikan di Balikpapan agar semakin baik,” pungkasnya.(*/ADV/DPRD Balikpapan)















