LINTASRAYA.COM, BALIKPAPAN – Persediaan air baku di Kota Balikpapan terus berada di bawah tekanan akibat kondisi El Nino.
Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) pun mulai menyiapkan skema distribusi alternatif untuk mengantisipasi berkurangnya suplai air ke pelanggan.
Langkah tersebut dilakukan setelah PTMB menyesuaikan pengambilan air dari dua waduk utama, yakni Waduk Manggar dan Waduk Teritip.
Penyesuaian ini mengikuti arahan Balai Wilayah Sungai (BWS) agar penggunaan air tetap dikendalikan dan keseimbangan antara debit masuk serta pengambilan dari waduk dapat dipertahankan.
Direktur Utama PTMB Yudhi Saharuddin mengatakan, produksi dari Waduk Manggar akan diturunkan dari sekitar 1.150 liter per detik menjadi 900 liter per detik. Sementara pengambilan air dari Waduk Teritip dikurangi hingga 50 persen.
“Kita tahu sama-sama bahwa kita lagi dalam kondisi El Nino. Saat ini PTMB telah diminta untuk mengurangi pengambilan air, menurunkan produksi dari 1.150 liter per detik menjadi 900 liter per detik di Waduk Manggar. Di Waduk Teritip diminta penurunan debit sampai 50 persen,” kata Yudhi, Kamis 3 September 2026.
Pengurangan produksi tersebut menjadi konsekuensi dari upaya mempertahankan cadangan air baku. Namun, kebijakan itu juga berpotensi berdampak pada kelancaran distribusi ke sejumlah wilayah pelanggan.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PTMB mulai menyiapkan pola pelayanan yang tidak hanya bergantung pada jaringan perpipaan. Tiga titik terminal tangki air disiapkan sebagai lokasi pendukung apabila terjadi gangguan distribusi.
Skema ini mulai diterapkan pada Jumat (4/9/2026). PTMB akan terlebih dahulu memetakan kawasan yang mengalami penurunan pasokan, kemudian mengerahkan armada tangki untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.
“Untuk mengantisipasi dampak itu, mulai besok kami akan membentuk tiga titik terminal tangki air. Kemudian kami identifikasi daerah-daerah mana yang terdampak, lalu kami antarkan tangki secara cepat,” ujarnya.
PTMB juga memperkirakan tekanan terhadap sumber air baku masih berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Sepanjang September, produksi diproyeksikan berada di kisaran 900 liter per detik.
Apabila kondisi waduk tidak mengalami perbaikan, produksi berpotensi kembali dikurangi pada Oktober menjadi sekitar 800 liter per detik.
Penyesuaian akan dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara air yang masuk ke waduk dan volume yang diambil untuk produksi.
“Diperkirakan September kita hanya produksi 900 liter per detik, lalu Oktober kita akan turun lagi ke 800, sampai inflow dan outflow-nya bisa seimbang,” jelas Yudhi.
Di sisi lain, PTMB mulai mencari sumber air tambahan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dua waduk utama. Perusahaan telah memperoleh satu unit mobil Instalasi Pengolahan Air (IPA) mobile yang dapat digunakan untuk mengolah air dari sumber alternatif.
Sejumlah sumber seperti sumur dan bendali menjadi opsi yang dapat dimanfaatkan melalui perangkat tersebut. PTMB berharap IPA mobile mampu menambah suplai sekaligus membantu menutup sebagian kebutuhan air selama cadangan waduk masih terbatas.
“Kami sudah mendapatkan bantuan satu unit mobil IPA mobile. Jadi kita bisa memanfaatkan sumber air, termasuk sumur dan bendali yang ada. Mudah-mudahan itu bisa kita manfaatkan untuk menutupi kekurangan air saat ini,” tutur Yudhi.
PTMB masih menunggu perubahan kondisi cuaca yang diharapkan dapat meningkatkan kembali debit air baku. Berdasarkan prakiraan BMKG, peluang hujan diperkirakan mulai meningkat pada pertengahan Oktober.
Apabila hujan turun secara konsisten, tambahan aliran air ke waduk diharapkan dapat memperbaiki cadangan air baku. Dengan begitu, volume pengambilan dan produksi dapat kembali dinaikkan secara bertahap sesuai kondisi sumber air.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat diminta bersiap terhadap kemungkinan perubahan pola distribusi. Pelanggan yang mengalami gangguan pasokan juga diimbau segera berkoordinasi dengan PTMB agar kebutuhan air di wilayah terdampak dapat ditangani melalui skema distribusi alternatif. (*/fredi)















